Iwan Fajar
Ketua Aliansi Kajian Jurnalis Independen Indonesia
KLIKREAD.COM - Di Kepri umumnya, dan khususnya di Batam, saat ini kata preman menjadi sesuatu yang sangat sensitif bagi kalangan dunia kewartawanan.
Kesensitifan ini muncul diakibatkan dari sebuah pernyataan yang keluar dari pentolan organisasi kewartawanan yang tua dan besar di Batam.
Dikatakan dalam kalimat yang diunggah sejumlah media online bahwa wartawan yang tidak UKW itu preman, sederhananya seperti itu asumsi yang berkembang.
Baca Juga: Ban Mobil Bocor Halus dari Bibir Pelek, Begini Cara Mengatasinya
"Kalau bukan wartawan kompeten bersertifikasi Dewan Pers, itu premanisme berkedok wartawan!".
Inilah kalimat langsung yang merupakan sebuah pernyataan pentolan organisasi wartawan, yang dikutip dari satu media online lokal yang mengangkat isu tersebut.
Pernyataan yang telah terucap dan sudah menjadi penggalan bagian narasi dari sebuah berita yang dikonsumsi publik ini, tentu awalnya mempunyai niat yang baik.
Baca Juga: Daytona Menawarkan Komstir Murah Namun Berkualitas Khusus Part Honda Scoopy
Ucapan ini muncul karana dipicu dari adanya pemberitaan media daring terhadap dunia pendidikan, yang juga sudah menjadi konsumsi publik.
Pemberitaan yang ditayangkan itu, dinilai belum melalui sebuah proses jurnalistik yang kurang baik dan tidak benar.
Bahkan, berita yang ditayang sarat dengan melanggar kode etik jurnalistik.
Baca Juga: Bahas Preman Berkedok Wartawan Berakhir Rusuh, Ali: Kita Minta Klarifikasi
Dan yang menjadi korban dari pemberitaan yang kurang baik ini adalah dunia pendidikan.
Artikel Terkait
Sufmi Dasco Ahmad dan Elegi Jurnalisme Warung Kopi
Wafatnya Isa Almasih Menurut Perspektif Islam
Cari Kerja Makin Sulit, Pemerintah Harus Serius Berbenah Jangan Sibuk Cengengesan Pencitraan
Geliat Properti Bali dan Waspada Imigrasi
KOTA SERANG: MENARIK TETAPI TIDAK CUKUP NYAMAN
Perempuan Sebagai Poros: Sistem Matrilineal dalam Adat Minangkabau
Godok Obuih Makanan Khas Nagari Lubuk Tarok Kabupaten Sijunjung
Proyek Gedung MPP Karimun Mengundang Sorotan di Tengah Kondisi Keuangan Daerah yang Tertekan
MAKAN BAJAMBA:TRADISI KOLEKTIF DALAM BUDAYA MINANGKABAU
Hukum Progresif, Harapan Mengurai Sesak Lapas