Dalam sambutannya, Bapak Firdaus menekankan pentingnya menjaga budaya dan memperkuat kolaborasi agar cita-cita besar nagari dapat terwujud. “Kolaborasi adalah kunci untuk memastikan gerakan kebudayaan dan pertanian ini terus tumbuh,” ujarnya.
Baca Juga: Pastikan Personel Tetap Prima, Sidokkes Laksanakan Penyuluhan Kesehatan dalam Ops Zebra Seligi 2025
Sementara itu, Bupati Padang Pariaman Dr. John Kennedy Aziz menegaskan bahwa Nagari Punggung Kasiak memiliki nilai historis, kebudayaan, dan potensi pertanian yang sangat kaya. “Potensi ini jika dikembangkan dengan serius dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.
Pembukaan Dengan Arak-Arakan Jamba
Setelah resmi dibuka oleh bupati, acara berlanjut dengan arak-arakan jamba menuju lokasi Silek Sawah. Meski hujan deras turun tanpa henti, antusiasme tamu undangan tidak surut.
Silek Sawah menampilkan dua pasang pesilat dari Perguruan Silat Harimau Lalok Punggung Kasiak dan Perguruan Silat Sigulambai Kampung Baru, yang disambut meriah oleh para penonton.
Baca Juga: Pertunjukan Teater Bangsawan Dinilai Miliki Potensi Besar Jadi Daya Tarik Wisata Tanjungpinang
Rangkaian Kegiatan Seru Selama Dua Hari
Festival ini menyuguhkan berbagai kegiatan menarik, di antaranya:
Lomba Marandang, Lomba Memasak Kudapan Tradisional Minangkabau, Silek Sawah, Penampilan Silek se-Kabupaten Padang Pariaman, Parade Hasil Tani,Solo song, Pasar Sembako Murah, Senam Pagi dan Doorprize.
Lomba marandang dan kudapan tradisional disambut meriah oleh ibu-ibu nagari. Hadiah diserahkan langsung oleh istri Bupati Padang Pariaman kepada para pemenang.
Dukungan GAPSI dan Perguruan Silat
Baca Juga: Pastikan Personel Tetap Prima, Sidokkes Laksanakan Penyuluhan Kesehatan dalam Ops Zebra Seligi 2025
Kesuksesan acara ini juga tak lepas dari kontribusi GAPSI (Gerakan Pekerja Seni Indonesia) yang turut berjibaku bersama panitia.
Pada malam harinya, festival dipenuhi atraksi memukau dari berbagai perguruan silat yang diundang, menambah kemeriahan suasana dan menghidupkan kembali identitas budaya Minangkabau.
Artikel Terkait
MAKAN BAJAMBA:TRADISI KOLEKTIF DALAM BUDAYA MINANGKABAU
Hukum Progresif, Harapan Mengurai Sesak Lapas
Siapa Preman Berkedok Wartawan itu?
Upaya Menyempurnakan Evaluasi Pembelajaran
Saatnya Kopi dan Alas Kaki Kita Menembus Eropa
FENOMENA TURISMOFOBIA
MELANGGAR KONSTITUSI: PEMERINTAH KOTA BATAM BIARKAN WARGA MATI DI JALAN RAYA
MAHKAMAH dI MEDIA SOSIAL: Saat Kebijakan Publik Berlagak “Cek Ombak”
Kewarganegaraan Global Indonesia: Terobosan Imigrasi dalam Menanggapi Kewarganegaraan Ganda
Desentralisasi yang Tertunda: Mengapa Jemaja Belum Merasakan Pemerataan Layanan Publik?