MAKAN BAJAMBA:TRADISI KOLEKTIF DALAM BUDAYA MINANGKABAU

photo author
Ria Fahrudin, Klik Read
- Senin, 2 Juni 2025 | 15:41 WIB
Hilmi Rafika dari mahasiswa sastra Minangkabau Universitas Andalas Padang.
Hilmi Rafika dari mahasiswa sastra Minangkabau Universitas Andalas Padang.

Makan Bajamba pada hakikatnya adalahproses makan bersama secara kolektif dalam satu wadah atau dulang, yang dilakukanpada acara-acara penting seperti pernikahan, alek nagari, atau peringatan hari-hari besar.

Namun lebih dari sekadar makan bersama, tradisi ini merupakan cerminan dari sistem nilai yang telah terbangun rapi dan berfungsi sebagai mekanisme pemeliharaan sosial dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Minangkabau.

Nilai utama yang tercermindalam Makan Bajamba adalah kolektivitas, yakni semangat kebersamaan yang terwujud dalam segala aspek prosesi.

Baca Juga: Nikmati Susu Murni Langsung dari Peras dari Sapi Saat Berkunjung ke Wisata Cimory On The Valley

Semua orang yang duduk bersama dalam satu dulang menanggalkan sementara identitas individualnya dan membaur dalam satu identitassosial yang lebih besar.

Hal ini memperlihatkan bahwa dalam masyarakat Minangkabau, makan bukan hanya aktivitas biologis atau domestik, melainkan kegiatan publik yang mengandung nilai-nilai luhur.

Makan Bajamba menjadi ajang untuk menunjukkan solidaritas, kebersamaan, serta rasa saling menghargai antarindividu.

Baca Juga: Menikmati Wahana Wisata Ayanaz Gedong Songo Menyajikan Keindahan Alam Semarang

Setiap orang makan dengan tata cara tertentu, mengikuti aturan adat yang tidak tertulis namun dipatuhidengan penuh kesadaran.

Misalnya, tidak boleh ada yang makan tergesa-gesa, tidakboleh mendahului yang lebih tua, serta harus menjaga kesopanan dalam gestur danbahasa selama acara berlangsung.

Struktur sosial dalam pelaksanaan Makan Bajamba juga sangat terlihat, karena tata letak duduk dalam acara ini mencerminkan hirarki dan hubungan kekerabatan di dalam masyarakat.

Baca Juga: Menikmati Aneka Bunga Bermekaran Berkunjung ke Wisata Taman Bunga Celosia

Para penghulu, niniak mamak, dan tokoh-tokoh masyarakat duduk di posisi tertentu yang menunjukkan kedudukan mereka.

Sementara itu, anak-anak muda dan anggota masyarakat lainnya duduk mengikuti urutan yang mencerminkan norma sosial yang berlaku.

Meski ada perbedaan kedudukan, semua yang duduk bersama di dulang yang sama dianggap setara dalam kehormatan, menunjukkan adanya pengakuan terhadap nilai kesetaraan dalam kebersamaan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ria Fahrudin

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Membaca Luka Aurelie Moeremans dalam Broken Strings

Rabu, 14 Januari 2026 | 10:03 WIB

Akal-akalan Efisiensi di Balik Pilkada

Rabu, 24 Desember 2025 | 12:22 WIB

Bencana dan Ilusi Otonomi

Sabtu, 13 Desember 2025 | 21:02 WIB

Hari HAM Sedunia,400 Orang Nasibnya Digantung

Rabu, 10 Desember 2025 | 12:22 WIB
X