Padahal rakyat Sumatera membayar pajak yang sama dan berkontribusi besar bagi ekonomi negara.
Jika pemerintah terus membiarkan Sumatera menghadapi krisis sebesar ini sendirian, maka jelas bahwa kesetaraan perlindungan rakyat hanyalah slogan kosong, bukan komitmen negara.
Pada akhirnya, negara harus berani bercermin: berapa banyak lagi nyawa yang harus melayang sebelum pemerintah mengakui bahwa kerusakan ini lahir dari kelalaian negara sendiri?
Sumatera kini berdarah bukan hanya karena hujan yang turun, tetapi karena keputusan-keputusan yang dibiarkan salah selama bertahun-tahun.
Baca Juga: Desentralisasi Belum Sepenuhnya Berpihak pada Bintan Pesisir
Bila pemerintah pusat terus menunda penetapan status bencana nasional, terus ragu menutup tambang ilegal, dan terus membiarkan hutan dirampas tanpa kendali, maka sejarah akan mencatat bahwa negara bukan hanya gagal melindungi rakyatnya melainkan ikut menjadi bagian dari bencana itu sendiri.
Pemerintah masih punya pilihan: bergerak sekarang atau dikenang sebagai rezim yang membiarkan satu bagian Indonesia tenggelam demi kepentingan segelintir elite.
Sumatera juga Indonesia. Jika negara tetap lamban, maka jelas: yang rusak bukan hanya hutan, tetapi juga rasa keadilan dalam republik ini. ***
Oleh: Miftahul Huda (Dosen Ilmu Hukum))
Artikel Terkait
Upaya Menyempurnakan Evaluasi Pembelajaran
Saatnya Kopi dan Alas Kaki Kita Menembus Eropa
FENOMENA TURISMOFOBIA
MELANGGAR KONSTITUSI: PEMERINTAH KOTA BATAM BIARKAN WARGA MATI DI JALAN RAYA
MAHKAMAH dI MEDIA SOSIAL: Saat Kebijakan Publik Berlagak “Cek Ombak”
Kewarganegaraan Global Indonesia: Terobosan Imigrasi dalam Menanggapi Kewarganegaraan Ganda
Desentralisasi yang Tertunda: Mengapa Jemaja Belum Merasakan Pemerataan Layanan Publik?
Anak Muda Bangkitkan Tradisi: Festival Agriculture Punggung Kasiak Jadi Perhatian Publik
BAGAIMANA PENGUATAN SUMBER DAYA MANUSIA di KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS?
Desentralisasi Belum Sepenuhnya Berpihak pada Bintan Pesisir