Bali kini banyak menyediakan berbagai pilihan resor baru dan vila eksklusif, seperti proyek OXO The Residences di Nyanyi yang dibangun untuk menarik kunjungan wisatawan premium.
Dengan adanya histori Overtourism dan Tekanan Infrastruktur, terjadi Lonjakan wisatawan (6,33 juta wisman pada 2024) yang menyebabkan tekanan pada infrastruktur di kawasan populer, seperti kemacetan, krisis pengelolaan sampah, dan keterbatasan air di sektor Ubud, Seminyak, dan Kuta, sehingga kerepotan dalam menghadapi kepadatan yang mempengaruhi aktifitas wisata.
Gentrifikasi pariwisata di Kuta, Sanur, dan Ubud telah mencapai puncak, memicu perubahan demografi dan lanskap.
Baca Juga: Anda Rentan Sakit Kepala dan Punggung untuk Ramalan Zodiak Taurus Jumat, Selasa, 6 Mei 2025
Selain itu, Bali punya teroboson yang paling menarik, yaitu Kebijakan dan Teknologi yang mendukung aktifitas promosi wisata melalui kampanye digital seperti "Wonderful Indonesia" dan aplikasi pariwisata.
Sistem manajemen destinasi berbasis teknologi juga diterapkan secara berkelanjutan untuk mengelola arus wisatawan.
Jika Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan memiliki keinginan untuk meningkatkan pengawasan WNA di Bali, maka “menintegrasikan” sistem teknologi pengawasan keimigrasian yang telah ada dengan sistem managemen destinasi yang dimiliki oleh Provinsi Bali dapat menjadi opsi dalam meningkatkan kecepatan dan keakuratan pengawasan keimigrasian bagi WNA. ***
Oleh: Ir. H. Abdullah Rasyid, ME
Penulis adalah Staf Khusus Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Bidang Komunikasi dan Media
Artikel Terkait
Sufmi Dasco Ahmad dan Elegi Jurnalisme Warung Kopi
Wafatnya Isa Almasih Menurut Perspektif Islam
Cari Kerja Makin Sulit, Pemerintah Harus Serius Berbenah Jangan Sibuk Cengengesan Pencitraan