Pertama, diversifikasi Lokasi untuk mengurangi tekanan pada kawasan wisata tradisional seperti Kuta, Seminyak, dan Ubud.
Pemerintah dan sektor swasta berhasil mengembangkan destinasi kawasan wisata baru di wilayah barat seperti Pererenan, Kedungu, Cemagi, dan Nyanyi.
Baca Juga: Laptop ASUS VivoBook Flip 14 Bisa Dijadikan Mode Tablet dan Tenda
Kawasan ini ternyata telah menarik minat banyak wisatawan dan ekspatriat yang mencari lingkungan wisata alami dan tidak overcrowded.
Kedua, Provinsi Bali juga telah memiliki kawasan ekowisata dan pariwisata berkelanjutan yang dikembangkan atas dasar Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif No. 9 Tahun 2021.
Bali mendorong ekowisata dengan pengembangan destinasi berbasis alam dan budaya, seperti desa wisata dan situs pelestarian lingkungan.
Baca Juga: Di Kotak Penjualan ASUS VivoBook Flip 14 Tersedia Tas Khusus
Pertumbuhan Properti bertambah, Harga properti di Bali naik rata-rata 7% per tahun dalam 5 tahun terakhir, yang didorong oleh tingginya permintaan investasi untuk vila, resor, dan hunian mewah.
Pada tahun 2024, pendapatan dari sektor properti di Provinsi Bali mencapai USD.
142 juta, naik 33% dari bulan sebelumnya.
Baca Juga: Di Kotak Penjualan ASUS VivoBook Flip 14 Tersedia Tas Khusus
Kawasan seperti Nyanyi mengalami lonjakan harga tanah tertinggi hingga Rp. 8 juta per meter persegi pada tahun 2024 ini.
Selanjunya, fasilitas akomodasi di Provinsi Bali juga bertambah.
Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang meningkat, mencapai 57,69% pada April 2024, naik 13,38 poin dari April 2023. Hotel non-bintang juga mencatat TPK 44,05%.
Baca Juga: Anda Mudah Emosi Jiwa untuk Ramalan Zodiak Aries Selasa, 6 Mei 2025
Artikel Terkait
Sufmi Dasco Ahmad dan Elegi Jurnalisme Warung Kopi
Wafatnya Isa Almasih Menurut Perspektif Islam
Cari Kerja Makin Sulit, Pemerintah Harus Serius Berbenah Jangan Sibuk Cengengesan Pencitraan