Saat Tempo enggan menuliskan penjelasan detail dari si narasumber selain soal profil soal yang bersangkutan adalah pejabat kabinet, maka di sinilah muncul kecurigaan besar.
Apakah masuk akal narasumber yang begitu menarik itu tak dieksplor narasi atau informasinya?
Di sinilah pentingnya persoalan ini dibawa ke Dewan Pers.
Ini untuk membuktikan kecurigaan apakah benar narasumber yang 'katanya' pejabat itu adalah sumber asli atau jangan-jangan imajinasi alias bohong.
Bukan baru pertama ini Tempo memframing informasi yang hanya berlandaskan imajinasi.
Baca Juga: Walikota Tanjungpinang Wajibkan Seluruh Pegawai dan Masyarakat Pakai Tanjak Setiap Hari Jumat
Berulang kali Dewan Pers pun membuktikan kesalahan etika Tempo yang umumnya menyasar pada reportase terkait pejabat atau pengusaha yang kebetulan punya banyak sumber daya.
Hal yang pernah dibongkar oleh akun bernama Jilbab Hitam soal modus operandi Tempo mencari keuntungan di balik pemberitaan.
Begitulah elegi jurnalisme warung kopi.***