Oleh; Muhammad Arief Rosyid Hasan
Ketua Umum PB HMI Periode 2013-2015
KLIKREAD.COM - Jurnalisme 'katanya' agaknya semakin melekat pada Tempo.
Dibungkus dengan narasi seolah-olah investigasi, namun nyatanya hanya gosip warung kopi.
Sayangnya kenyataan ini kita dapati di tengah inflasi sampah informasi di media sosial.
Media massa sejatinya adalah harapan yang bisa menjernihkan.
Baca Juga: Amsakar-Li Claudia Gagas Taman Kota Instagramable di Baloi Indah
Tapi sayang media sekelas Tempo malah terjerumus dalam kubangan sampah informasi yang menyesatkan.
Jurnalisme 'katanya' terlihat dengan kecenderungan Tempo yang kerap memakai pengakuan sumber anonim yang sama sekali tidak jelas akurasi faktanya.
Tak ada data, fakta, hanya sekadar 'katanya'. Kata pengakuan dari sumber anonim yang begitu lemah.
Sekalipun dirahasiakan identitasnya, Tempo tak bisa mengklasifikasi apakah kualitas narasumbernya adalah sumber primer, sekunder, atau jangan-jangan malah imajiner!
Contoh teranyar Tempo membuat kehebohan dengan mengutip pengakuan narasumber yang 'katanya' pejabat di Kabinet Merah Putih.
Baca Juga: Pemko Batam Gelar Apel Gabungan dan Halal Bihalal Guna Bangun Semangat Kerja Pasca Liburan Panjang
Pejabat itu dikutip keterangannya terkait dengan tudingan pada Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad yang dikaitkan dengan bisnis rumah judi di Kamboja.
Narasi singkat berlandaskan 'katanya’ itu dilekatkan dengan penjelasan yang begitu minim.
Apa benar itu adalah narasumber primer, sekunder, atau imajiner.