Memasuki era Demokrasi Terpimpin (1959-1966) PKI mulai mendapatkan angin segar bagi rencananya duduk dalam puncak kekuasaan Indonesia. Presiden Soekarno menggencarkan ide tentang Nasakom (Nasionalis Agama dan Komunis).
Nasakom adalah jargon politik Presiden Soekarno untuk menstabilkan ideologi politik aliran yang ada. Menyatukan kekuatan Nasionalis, Agama, dan Komunis, sama artinya menyatukan PNI, NU, dan PKI dalam roda pemerintahan.
PKI dengan Nasakom menempatkan dirinya sebagai kekuatan politik nyata di Indonesia. PKI sendiri berhasil menyingkirkan Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) yang menjadi lawan beratnya pada tahun 1962. Namun, PKI masih punya rival berat, yaitu Angkatan Darat (AD).
Aksi-aksi Sepihak PKI Menjelang Peristiwa G30S PKI
PKI selama Demokrasi Terpimpin adalah kekuatan politik yang selalu mendukung apapun kebijakan yang diambil oleh Presiden Soekarno. Sehingga ini menempatkan PKI dalam posisi sangat mudah menyingkirkan lawan-lawannya.
PKI sendiri dalam setiap aksi atau kegiatannya, didukung oleh ormas (organisasi masyarakat) yang terafiliasi dengan PKI, selalu menyuarakan perjuangan kelas, melawan kaum berada atau kalangan elit Indonesi yang hidup penuh dengan glamour. Salah satu yang diserang oleh PKI adalah, AD, Cendekiawan Muslim, seniman-seniman yang dianggap pro-barat, dan kyai-santri di daerah.
Mereka-mereka itulah yang selalu bersebrangan dengan prinsip perjuangan PKI dan selalu meragukan kesetiaan PKI kepada Pancasila dan Presiden Soekarno.
Beberapa aksi-aksi PKI yang kemudian memicu Peristiwa G30S PKI tahun 1965 bisa kita lihat dibawah ini:
- Tahun 1963 PKI Memprovokasi Presiden Soekarno untuk Konfrontasi dengan Malaysia, dan mengusulkan dibentuknya Angkatan Kelima yang terdiri dari kaum buruh dan tani untuk dipersenjatai dengan dalih ”Mempersenjatai Rakyat untuk Bela Negara” melawan Malaysia.
- Tahun 1963 Atas desakan dan tekanan PKI terjadi penangkapan Tokoh-Tokoh Masyumi dan GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia) serta Ulama Anti PKI, antara lain :
1. KH. Buya Hamka,
2. KH. Yunan Helmi Nasution,
3. KH. Isa Anshari,
4. KH. Mukhtar Ghazali,
5. KH. EZ. Muttaqien,
6. KH. Soleh Iskandar,
7. KH. Ghazali Sahlan dan
8. KH. Dalari Umar.
Baca Juga: Profil Jenderal TNI Anumerta Achmad Yani, Korban Tragedi G30S PKI
- Pada 13 Januari 1965, dua sayap ormas PKI yaitu PR (Pemuda Rakyat) dan BTI (Barisan Tani Indonesia) telah menyerang dan menyiksa Peserta Training PII (Pelajar Islam Indonesia) di Desa Kanigoro Kecamatan Kras Kabupaten Kediri, sekaligus melecehkan Pelajar Wanitanya, dan juga merampas sejumlah Mushaf Al-Qur’an dan merobek serta menginjak-injaknya. Ini dilakukan sebagai bentuk balas dendam akibat banyak anggota PKI Madiun yang tewas olah kalangan santri di Kediri.
- Awal tahun 1965 PKI dengan 3 Juta Anggota menjadi Partai Komunis terkuat di luar Uni Soviet dan RRT (Republik Rakyat Tiongkok). PKI memiliki banyak ormas, antara lain : SOBSI (Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), Pemuda Rakjat, Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) BTI (Barisan Tani Indonesia), LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakjat) dan HSI (Himpunan Sardjana Indonesia).
Baca Juga: Fakta Mencengangkan Tentang D.N Aidit yang Disebut-sebut Dalang Tragedi G30S PKI
Artikel Terkait
Dokumen Gilchrist: Buatan Agen Ceko Yang Dimainkan Oleh PKI Sebagai Alat Serang Terhadap Pucuk Pimpinan TNI AD
Beberapa Adegan dalam Film G30S PKI yang Disebut-sebut Tidak Sesuai Fakta
MKD DPR Kembali Mengundang Ketua IPW Untuk Klarifikasi Mengenai Jet Pribadi Brigjen Hendra Kurniawan
Syam Kamruzaman, Sosok Misterius Yang Berada di Balik Peristiwa G30S PKI, Intel Militer Atau Bukan?
Daftar Film Rekomendasi Untuk Mengingat Peristiwa G30S PKI, Ada Mel Gibson Loh, Cek Yuk Film Terkait G30S PKI