Lantas bagaimana nasib Syam Kamaruzaman ini? orang yang dikenal oleh tetangganya sebagai pengusaha genteng dan keramik di Jakarta.
Syam sendiri ditangkap pada bulan Maret 1967, dan dibawa ke Jakarta untuk di Mahmilub-kan. Memang agak aneh, seorang sipil tapi disidang secara militer. Namun, bukannya Syam kalau tidak punya cara untuk mengamankan dirinya sendiri.
Baca Juga: Lowongan Kerja Terbaru 2022 Aquaproof, Membutuhkan Recruitment Staff, Lokasi Tangerang Daan Mogot
Syam, adalah orang yang paham tentang seluruh kader PKI, orang-orang militer AD yang pernah bekerja sama dengannya, kartu inilah yang ia mainkan. Meski ia diputus vonis mati, pada tahun 1968, dan mengakui ia diperintah DN Aidit untuk melancarkan operasi G30S itu.
Namun, Syam yang sangat 'sakti' ini tidak langsung di eksekusi mati, dia kerap hadir dalam setiap sidang-sidang orang-orang yang terlibat dalam peristiwa G30S PKI sebagai saksi. Kesaksian atau nyanyiannya ini yang membuatnya 'ditunda' eksekusi matinya.
Baca Juga: Mau yang Segar-segar? Dokter Zaidul Akbar Bagikan Resep Herbal untuk Refreshing Sel-sel Tubuh
Selama ditahan, Syam mendapatkan perlakuan khusus dari pemerintah Orde Baru. Nyanyiannya ini harus dibayar dengan perlakuan istimewa kepada Syam, karena dialah saat itu berposisi sebagai 'informan' bagi Orde Baru dan AD untuk melakukan 'cleansing' terhadap orang-orang PKI.
Menurut pengakuan anaknya Syam waktu ia berkunjung ke tahanan, seperti dikutip dari buku Sjam Lelaki dengan Lima Alias, ayahnya selalu punya uang setas di tahanannya. Uang itu ternyata adalah uang hasil 'nyanyian' Syam kepada para penyidik militer tentang peristiwa G30S PKI.
Baca Juga: Pialang Saham Memprediksi Siapa Juara di Qatar Berdasarkan Hitungan Algoritma, Tebak Siapa Juaranya?
Sehingga Syam 'membeli' penundaan eksekusi matinya dengan cara menjual informasi. Hal ini mudah ia lakukan karena mengingat dirinya adala Kepala Biro Khusus PKI dan kawan dekat Kawan Aidit.
Setelah proses pembersihan terhadap orang-orang dibalik peristiwa G30S PKI selesai, Syam sendiri pun akhirnya dieksekusi mati pada bulan September 1986. Tamatlah sudah, sosok perokok berat dan penikmat kopi hitam pahit di dalam adegan-adegan menegangkan menjelang malam 30 September 1965.***
Artikel Terkait
Cerita Dibalik Istilah G30S, G30S/PKI, Gestapu, dan Gestok, Ada Yang Mirip Dengan Polisi Khusus NAZI
Pidato Menyentuh Dari Jenderal Nasution Paska Peristiwa G30S PKI Pada Saat Mengantar Jenazah Para Jenderal
Sosok Letkol Untung Syamsuri, Komandan Operasi Gerakan 30 September Yang Berasal Dari Resimen Tjakrabirawa
Dokumen Gilchrist: Buatan Agen Ceko Yang Dimainkan Oleh PKI Sebagai Alat Serang Terhadap Pucuk Pimpinan TNI AD
Beberapa Adegan dalam Film G30S PKI yang Disebut-sebut Tidak Sesuai Fakta