Jokowi juga mengungkapkan, dari penjelasan Wakil Menteri BUMN Pahala Mansury Indonesia membutuhkan sekitar 350.000 kilo liter gula untuk memproduksi etanol lima (E5).
"Dan pabrik ini sekarang produksinya 30.000 kilo liter. Artinya untuk yang E5 saja kita butuh 10 pabrik seperti yang kita lihat sekarang. Bayangkan itu baru E5. Kalau nanti masuk ke E20 kita butuh, tinggal kalikan saja. Sangat banyak sekali yang masih kita butuhkan dari urusan tebu ini," tuturnya.
Kerja Sama yang Baik
Presiden Jokowi mendorong adanya kerja sama yang baik antara petani tebu dengan pabrik gula-pabrik gula.
Pemerintah juga berkomitmen untuk menggantikan mesin-mesin lama di pabrik gula dengan mesin-mesin modern.
Di samping bibit yang baik, penggunaan mesin-mesin modern tersebut akan menguntungkan petani, karena tingkat rendemen tebu meningkat.
"Dan ini memang memerlukan investasi yang tidak sedikitsedikit, memerlukan uang yang tidak sedikit. Tetapi sudah kita niatkan untuk merubah ini," ujar Jokowi.
Dengan melakukan berbagai upaya tersebut, selain mampu memenuhi produksi gula untuk konsumsi dalam negeri, Indonesia juga bisa memproduksi molase yang digunakan untuk membangun industri etanol.
"Membangun industri bioetanol yang juga akan memperkuat ketahanan energi kita," jelasnya.
Tekan Impor BBM
Presiden Jokowi juga menegaskan bahwa 50 persen BBM yang dikonsumsi itu harus diimpor dari negara lain dan hal ini tidak boleh terus menerus dilakukan.
"Karena kalau tebu ini berhasil kemudian B 30 sawit bisa ditingkatkan lagi, ini akan memperkuat ketahanan energi negara kita Indonesia," tutur Jokowi.***