Menurut Sony, proses penilaian dilakukan langsung ketika makanan tiba sehingga hasil evaluasi dapat diperoleh lebih cepat.
“Ketika MBG datang, kemudian PIC melakukan penilaian apakah MBG datang tepat waktu atau tidak.
Yang kedua melakukan tes organoleptik, dilakukan penciuman,” ucapnya.
Selain aroma, makanan juga dicicipi untuk memastikan kualitas rasa dan mendeteksi kemungkinan makanan basi atau tidak layak konsumsi.
Baca Juga: Fokus Tekan Stunting, BGN Wajibkan Dapur MBG Prioritaskan Ibu Hamil dan Balita
BGN juga ingin memastikan penyedia makanan tidak menyajikan menu yang monoton secara berulang.
“PIC melakukan penilaian jangan sampai menu yang disajikan oleh satu SPPG itu kemarin telur dadar, hari ini telur rebus, hari Rabu telur balado, akhirnya telur terus,” lanjut Sony.
Hasil penilaian tersebut nantinya akan menjadi indikator evaluasi atau Key Performance Indicator (KPI) bagi masing-masing Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
BGN juga menyiapkan dashboard pemantauan yang dapat diakses publik.
Data dashboard Reviu Menu MBG per Sabtu (23/5) pukul 21.31 WIB menunjukkan sebanyak 1.707 laporan telah masuk dari berbagai wilayah.
Sebanyak 1.705 laporan atau 99,88 persen menyatakan makanan layak dikonsumsi.
Sementara dua laporan lainnya menyebut makanan tidak layak konsumsi.***