Sejarah Bendungan Pintu Air Sepuluh Dibangun Kolonial Belanda untuk Balas Budi kepada Rakyat Indonesia

photo author
Harment Aditya, Klik Read
- Minggu, 7 September 2025 | 21:02 WIB
Bendungan Pintu Air Sepuluh dijadikan cagar budaya dan menjadi destinasi wisata./net
Bendungan Pintu Air Sepuluh dijadikan cagar budaya dan menjadi destinasi wisata./net

KLIKREAD.COM - Bendungan Pintu Air Sepuluh di Tangerang dikenal sebagai Sangego, dibangun oleh Kolonial Belanda pada tahun 1927.

Bendungan ini mulai beroperasi pada tahun 1932 sebagai bagian dari politik etis untuk irigasi dan pengendali banjir.

Pembangunan bendungan ini dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai wujud politik etis, yaitu program balas budi kepada rakyat Indonesia melalui pembangunan infrastruktur.

Baca Juga: Sejarah Pasar Lama Tangerang Pusat Perdagangan Tertua Berdiri Sejak Tahun 1407

Awalnya benungan ini dikenal sebagai Sangepo atau Ceko, bendungan ini kemudian dikenal sebagai Pintu Air Sepuluh karena memiliki sepuluh pintu besar yang menjadi ciri khasnya.

Bendungan ini memiliki sepuluh pintu air dan menjadi ikon bersejarah sekaligus simbol ketahanan kota, berfungsi vital untuk pasokan air dan kini menjadi cagar budaya serta objek wisata.

Bendungan Pintu Air Sepuluh terletak di Kelurahan Koang Jaya, Kecamatan Karawaci, Tangerang.

Baca Juga: Mengenal Sejarah Klenteng Boen Tek Bio, Klenteng Tertua Dijadikan Cagar Budaya Tionghoa di Kota Tangerang

Bendungan Pintu Air Sepuluh menjadi saksi bisu perkembangan infrastruktur di wilayah Tangerang selama lebih dari 90 tahun.

Bendungan Pintu Air Sepuluh ini berperan penting dalam mengairi sawah seluas 400 ribu hektare di wilayah Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, Kabupaten Serang, dan DKI Jakarta.

Aliran air dari bendungan ini menjadi sumber kehidupan bagi para petani dan menunjang ketahanan pangan di wilayah tersebut.

Selain fungsi utamanya, Bendungan Pintu Air Sepuluh juga berfungsi sebagai penampung cadangan air di Kota Tangerang.

Baca Juga: Sejarah Nerdirinya Masjid Agung Al-Ikhlas Ciledug Dibangun dari Bekas Pasar Jumat Kini Jadi Sentra Dakwah

Hal ini menjadi sangat penting untuk mengantisipasi musim kemarau dan memastikan ketersediaan air bersih bagi masyarakat.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Harment Aditya

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Mengenal Munggahan, Tradisi Menyambut Bulan Suci Ramadan

Selasa, 17 Februari 2026 | 13:10 WIB
X