Sejarah Jalan Tol Jagorawi, Jalan Tol Pertama di Indonesia Menjadikan Konektivitas Modern dan Pertumbuhan Ekonomi

photo author
Harment Aditya, Klik Read
- Selasa, 21 April 2026 | 17:05 WIB
Salah satu lintasan Jalan Tol Jagorawi yang merupakan jalan tol pertama dibangun di Indonesia.(Foto:Antara)
Salah satu lintasan Jalan Tol Jagorawi yang merupakan jalan tol pertama dibangun di Indonesia.(Foto:Antara)

KLIKREAD.COM - Jalan Tol Jagorawi (Jakarta-Bogor-Ciawi) adalah jalan tol pertama di Indonesia, diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 9 Maret 1978.

Sepanjang 59 km, tol ini dibangun mulai 1971/1974-1978 untuk menghubungkan Jakarta, Bogor, dan Ciawi, sekaligus menjadi tolok ukur konektivitas modern dan pertumbuhan ekonomi.

Ide tentang pembangunan jalan tol pertama kali dicetuskan oleh Walikota Jakarta Sudiro yang menjabat pada periode 1953-1960.

Baca Juga: Mengenal Munggahan, Tradisi Menyambut Bulan Suci Ramadan

Sudiro mulanya ingin membangun jalan tol berbayar untuk mendapatkan dana tambahan demi pembangunan ibu kota.

Pembangunan jalan tol pertama di Indonesia ini mulai direalisasikan pada 1973-1978.

Jagorawi merupakan jalan tol pertama yang dibiayai oleh APBN serta dari bantuan dan pinjaman dana asing.

Baca Juga: Gedung Perundingan Linggarjati Saksi Penting Sejarah Terbentuknya RIS

Pada awalnya, tol Jagorawi memiliki panjang 59 kilometer dengan enam jalur, yaitu tiga di kiri dan tiga di kanan, dipisahkan median jalur hijau yang lebar serta jalur hijau samping (roadside) yang cukup luas.

Lajur jalan juga tergolong lebar, yakni 3,75 meter. Lebar lajur tol pada umumnya sekitar 3,5 meter.

Jagorawi menghubungkan wilayah Jakarta, Cibubur, Citeureup, Bogor dan Ciawi. Biaya pembangunan mencapai Rp350 juta per kilometer.

Baca Juga: Wisata Sejarah Situs Purbakala di Museum Taman Purbakala Cipari Kuningan Jawa Barat

Sementara pada awalnya, masyarakat masih ragu menggunakan tol karena, harus membayar tarif, dan belum terbiasa dengan konsep jalan bebas hambatan.

Namun seiring waktu, masyarakat merasakan manfaatnya, yakni waktu tempuh lebih singkat, jalan lebih nyaman, dan perjalanan lebih aman.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Harment Aditya

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Mengenal Munggahan, Tradisi Menyambut Bulan Suci Ramadan

Selasa, 17 Februari 2026 | 13:10 WIB
X