Di samping ada nilai historis. Ini sekolah tertua di Asia Tenggara untuk tunanetra," katanya.
Menurut dia, tanah tersebut merupakan hibah dari seorang warga bernama Wongso Taruno pada 1986, bukan hasil pembelian atau tukar guling oleh Kemensos.
Ia menegaskan, pihaknya mendukung kehadiran program Sekolah Rakyat, asalkan tidak mengorbankan hak pendidikan anak berkebutuhan khusus.
"Kami mendukung program Sekolah Rakyat. Tapi jangan korbankan siswa-siswi SLBN A berkebutuhan khusus," ujarnya.
Komite sempat mengusulkan agar pembangunan menggunakan ruang atau lahan lain yang masih kosong di kompleks Wiyataguna.***