“Whoosh jadi pintu masuk buat China untuk memfasilitasi, mengisi kedaulatan di bidang berhubungan,” ujar Sri Radjasa.
Mengenai hubungan Indonesia dan China terkait Whoosh, Rocky Gerung menyebut Jepang seharusnya menjadi pihak yang paling marah.
Pasalnya, studi dan riset proyek kereta cepat dilakukan oleh Jepang, tapi hasilnya justru diberikan kepada China.
Baca Juga: Kakek 89 Tahun Dapat Becak Listrik dari Prabowo, Lansia Tetap Berdaya
Hal itu juga sempat disinggung oleh akademisi Sulfikar Amir mengenai studi kelayakan Whoosh.
“Mereka (China) mengambil studi kelayakan Jepang, dipelajari lalu membikin proposal studi kelayakan terhadap studi kelayakan,” kata Sulfikar Amir dikutip dari podcast Forum Keadilan TV pada Kamis, 13 November 2025.
“Kalau Jepang kan mereka ke lapangan, ngukur, ditimbang kemudian melakukan survei 4 tahun,” lanjutnya.
Baca Juga: Tingkatkan Perlindungan Hukum Terhadap Guru, Mendikdasmen MoU Bersama Kapolri
Dosen Nanyang Technological University (NTU), Singapura itu menyebut bahwa studi yang dilakukan China tidak empirik atau situasi yang tidak didasarkan pada peristiwa nyata melalui penelitian atau observasi.
Saat itu, Sulfikar juga menyebut bahwa studi tanpa turun ke lapangan juga menjadi penyebab pembengkakan biaya atau cost overrun yang kini ditanggung oleh proyek Whoosh.***