nasional

Jarak Ribuan Kilometer Tak Jadi Masalah, Demi Satu Ikrar, Sumpah Pemuda, Setia Untuk Satu Nusa Satu Bangsa

Jumat, 28 Oktober 2022 | 08:37 WIB
Sumpah Pemuda, sumpah setia para pemuda untuk satu nusa dan satu bangsa (Kemenpora)

KLIKREAD - Membayangkan saja sulit, bagaimana luasnya Indonesia, darat dan laut bersatu padu dengan panjang hampir 6.000 km dari Sabang sampai Merauke. 6.000 km sama saja kita berangkat dari London menuju Turki.

Panjang kilometer Indonesia sama dengan panjang satu benua Eropa. Bayangkan panjang kilometer tersebut kita tempuh pada tahun 1928 saat Kongres Pemuda II akan dilaksanakan.

Baca Juga: Dampak Sumpah Pemuda 1928 Terhadap Sejarah dan Persatuan Bangsa Indonesia

Dengan jarak ribuan kilometer tersebut, apakah pernah kita membayangkan bagaimana seorang Mohammad Yamin dari Sawah Lunto, Sumatera Barat, dapat bertemu dengan Johannes Leimena dari Ambon, Maluku?

Atau membayangkan seorang pemuda bernama Katjasungkana dari Madura dapat bertemu dengan Lefrand Senduk dari Minahasa, Sulawesi?

Baca Juga: Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia, Penggagas Kongres Pemuda II dan Lahirnya Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928

Mereka semua bukan sekedar kopdar atau kongkow-kongkow buang waktu senja, melainkan mereka berdiskusi, bertukar pikiran, mematangkan gagasan hingga akhirnya bersepakat mengikatkan diri dalam komitmen ke-Indonesiaan.

Padahal, jarak antara Sawah Lunto dengan Kota Ambon, lebih dari 4.000 kilometer. Hampir sama dengan jarak antara Kota Jakarta ke Kota Shanghai di China.

Belum lagi sarana transportasi umum saat itu, belum ada aplikasi modern pemesanan tiket online, masih mengandalkan kapal laut tiket manual dengan diikuti mata-mata Belanda.

Baca Juga: Gedung Kramat 106 Menjadi Saksi Bisu Lahirnya Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, Yuk Intip Sejarahnya

Dibutuhkan waktu berminggu-minggu untuk bisa sampai ke kota mereka. Pun dengan alat komunikasi yang masih terbatas, mereka hanya mengandalkan korespondensi melalui kantor pos, di mana surat hari ini dikirim, baru satu atau dua bulan kemudian tiba di alamat tujuan.

Dimana surat-surat pun tetap diawasi oleh Belanda, terutam hal yang berkait dengan istilah nasionalisme dan pergerakan.

Baca Juga: Mohammad Yamin dan Sumpah Pemuda 1928, Proses Penciptaan Nasionalisme Indonesia

Suatu kondisi yang sulit kita bayangkan saat ini dengan kemudahan transportasi dan komunikasi yang kita punya

Halaman:

Tags

Terkini