Baca Juga: Lirik Lagu dan Chord Itu Aku – Sheila on 7: Cobalah Aku Kapan Engkau Mau
Semakin Berkembang di Bawah Arahan Pep Guardiola
Ketertarikan Bayern Munchen tidak datang tiba-tiba. Pelatih Bayern saat itu, Pep Guardiola, menilai bahwa Kimmich layak masuk dalam rencana timnya. Rasa senang nan tak percaya berkumpul menjadi satu. Kimmich pun mengingat pertemuan pertamanya bersama Pep dengan jantung yang berdegup kencang.
“Agen saya memberi tahu bahwa sebuah klub ingin membeli saya. Kemudian saya bertanya kepadanya, ‘Siapa?’ Dia (agen saya)] menjawab: FC Bayern Munchen. Saya berkata: ‘Jangan bercanda dengan saya.’ Saya tidak percaya karena ketika Anda berada di divisi kedua, Bayern tidak biasanya menginginkan Anda. Bayern dapat membeli hampir semua pemain di dunia. Lebih sulit untuk dipercaya lantaran Guardiola-lah yang menginginkan saya,” papar Kimmich.
Usut punya usut, Pep telah memantau permainan Kimmich sejak lama, tepatnya ketika ia masih membela Jerman di kejuaraan Eropa U-19. Pep mengatakan bahwa ia akan memberikan posisi lain untuknya di Bayern.
Di bawah asuhan Pep, Kimmich menjelma jadi pemain tangguh di posisi bek tengah. Selama musim 2015-2016, ia bermain sebanyak 36 kali di semua ajang. Dari jumlah tersebut, Kimmich bermain sebagai bek tengah sebanyak 17 kali, bek kanan dua kali, gelandang bertahan 12 kali, dan gelandang tengah tiga kali.
Peran Lain Ancelotti dan Niko Kovac
Setelah berakhirnya era Pep Guardiola, kedatangan Ancelotti memberikan peran baru bagi Kimmich. Alih-alih bermain sebagai bek tengah, Kimmich lebih banyak ditempatkan sebagai bek kanan. Begitu pula ketika Bayern di bawah asuhan Niko Kovac. Sosok Kimmich menjelma menjadi pemain serbabisa.
Tanpa mengucilkan peran Pep, Kimmich berdalih jika tiap-tiap pelatih mempunyai caranya tersendiri. Kepada AZ, Kimmich sempat menuturkan bahwa ia tidak merindukan sosok Pep meskipun tentu saja ia menaruh hormat atas kepercayaan yang diberikannya sehingga menjadi pemain yang berkembang.
Kemampuannya itu membuat Kimmich digemari oleh tiap pelatih, tak terkecuali Joachim Low, nakhoda Timnas Jerman. Atas apa yang telah diraihnya, sejumlah pengamat, termasuk legenda Bayern, Paul Breitner, mulai menyejajarkannya dengan Phillip Lahm.
Kendati demikian, Kimmich enggan disamakan dengan eks kapten Bayern tersebut. Perbandingan itu pun kian memudar tatkala Kimmich menjadi andalan Hansi Flick di posisi gelandang bertahan dalam formasi 4-2-3-1.
“Saya selalu ingin menjadi diri sendiri, bukan Phillip Lahm. Tentu saja Lahm adalah pemain hebat—bahkan ketika dia bermain buruk, dia masih lebih baik dari yang lain. Ada konsistensi yang tinggi dalam tiap penampilannya dan Anda ingin menyamainya."
“Namun, Anda ingin bermain sebagai diri sendiri. Orang-orang tidak lagi membandingkan saya dengan Lahm, dan itu lebih baik bagi saya,” tukasnya.
Artikel Terkait
Seputar Piala Dunia 2022 Qatar, Stadion Internasional Khalifa di Al Rayyan yang Mampu Tampung 40.000 Penonton
Seputar Piala Dunia 2022 Qatar, Curahan Hati Firmino Saat Tak Masuk di Timnas Brasil
Seputar Piala Dunia 2022, Siapa Pencetak Gol Terbanyak dalam Sejarah Piala Dunia?
Piala Dunia 2022 Qatar, Van Gaal Umumkan Daftar Pemain Timnas Belanda, Ada De Jong, Depay, dan Xavi Simons!
Lionel Scaloni Rilis Daftar Pemain Timnas Argentina untuk Piala Dunia 2022 Qatar, Lo Celso Diganti Palacios