Sementara inflasi bulanan (month-to-month) mencapai 0,43 persen, di atas angka nasional sebesar 0,13 persen.
Baca Juga: Pulau Penyengat Dinilai Miliki Peluang Jadi Model Ekonomi Oranye Berbasis Budaya Melayu
Menurut Misni, kondisi tersebut dipengaruhi oleh tingginya mobilitas masyarakat serta tantangan logistik wilayah kepulauan.
Kelompok pengeluaran yang menjadi penyumbang utama inflasi antara lain sektor transportasi sebesar 2,44 persen serta penyediaan makanan, minuman, dan restoran sebesar 1,80 persen.
“Komoditas utama penyebab inflasi bulan ini di antaranya tarif angkutan udara dan laut, nasi dengan lauk pauk, telepon seluler, bensin, serta ikan layang atau benggol.
Baca Juga: Kampanyekan Gema Batam ASRI, Walikota Bersama Warga Goro Bersihkan Lingkungan di Kawasan Batam Kota
Namun demikian, beberapa komoditas seperti cabai merah, cabai rawit, dan emas perhiasan mengalami deflasi sehingga mampu menjadi penyeimbang tekanan harga,” jelasnya.
Secara spasial, Misni menyebutkan Kota Batam mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 3,26 persen, sementara Kota Tanjungpinang berada pada angka 3,25 persen.
Di sisi lain, Kabupaten Karimun menunjukkan capaian positif dengan deflasi bulanan sebesar minus 0,25 persen.
Meski menghadapi tantangan inflasi, Misni mengungkapkan bahwa perekonomian Kepulauan Riau tetap menunjukkan performa yang sangat baik.
Pada Triwulan I Tahun 2026, pertumbuhan ekonomi Kepri mencapai 7,04 persen secara year-on-year, menjadikan Kepri sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Sumatera dan peringkat kelima secara nasional.
“Walaupun kontribusi Kepri terhadap PDRB Sumatera hanya sekitar 7,30 persen, namun akselerasi pertumbuhan ekonomi kita merupakan yang tercepat. Ini patut kita syukuri dan terus kita jaga bersama,” katanya.
Misni juga menyoroti tingginya mobilitas wisatawan domestik di Kepri.
Baca Juga: Police Goes To School, Dirlantas Polda Kepri Edukasi Pelajar Soal Keselamatan Berkendara