KLIKREAD - Peristiwa G30S/PKI yang terjadi pada tahun 1965 menyisakan banyak cerita baik sebelum maupun sesudahnya. Peristiwa penculikan dan pembunuhan terhadap pucuk pimpinan TNI AD saat itu adalah peristiwa paling kelam dalam sejarah perpolitikan Indonesia.
Sumur tua di Lubang Buaya menjadi saksi bagaimana persaingan politik bisa memicu terjadinya aksi kekerasan politik yang berimbas pada kekisruhan dan kekerasan lanjutan.
Peristiwa G30S/PKI banyak mendapatkan soroton dari kalangan intelektual, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Tak jarang dari mereka berpendapat bahwasannya peristiwa penting ini akibat konteks perang dingin yang sedang berkecamuk di dunia saat itu.
Pendapat diatas memang ada benarnya, jika kita melihat konteks perang dingin yang berupa perang perebutan hegemoni antara ideologi komunis dan ideologi liberal-demokrasi. Baik Amerika dan Uni Soviet beserta para sekutunya selalu 'bertarung' ideologi dan kepentingan di negara-negara yang strategis di suatu kawasan.
Kawasan Asia Tenggara adalah salah satu 'arena' pertarungan ideologi tersebut. Ada dua negara krusial di kawasan ini, yaitu Vietnam dan Indonesia.
Vietnam sendiri sudah 'dimenangkan' oleh kelompok komunis. Sehingga tidak ada cara lain buat Amerika untuk menyeimbangkan kawasan ini dengan menjadikan Indonesia sebagai 'sekutu' perang dinginnya.
Namun upaya Amerika di Indonesia mendapat perlawanan cukup keras dari Presiden Soekarno sendiri dan PKI. Soekarno saat itu sedang melakukan politik ganyang Amerika dan Inggris. Sedangkan PKI secara tegas menolak intervensi apapun Amerika di wilayah Indonesia.
Baca Juga: Jangan Screenshot! Ini Langkah Tepat untuk Download Twibbon Peringatan Sejarah G30S PKI 2022
Dokumen Gilchrist: Bukti Kuat Konteks Perang Dingin Berlangsung di Indonesia
Pada tahun 1968, seorang Intelejen atau mantan mata-mata asal Cekoslovakia, Ladislav Bittman, dalam buku Permainan Curang: Peranan Intelejen Dalam Perang Politik Uni Soviet, mengatakan bahwa dirinya lah yang membuat Dokumen Gilchrist atas peritah dari Uni Soviet.
Bittman melakukan hal tersebut demi melanjutkan keberhasilan 'Operasi Palmer' yang berhasil menyingkirkan Bill Palmer sebagai Duta Besar Amerika di Indonesia. Palmer dipulangkan pada April 1965, dan digantikan oleh Marshall Green. Ini membuat posisi Uni Soviet di Indonesia semakin kuat pengaruhnya.
Baca Juga: Cerita Dibalik Istilah G30S, G30S/PKI, Gestapu, dan Gestok, Ada Yang Mirip Dengan Polisi Khusus NAZI