Tak hanya itu, dalam skema ini dapur MBG berbasis pesantren ini menjadi elemen penting untuk atas keterlibatan komunitas lokal dalam rantai pasok makanan sehat.
Mengingat, program ini tidak hanya menyasar pemenuhan gizi, tetapi juga membuka ruang pemberdayaan ekonomi. Pesantren dapat turut berperan memfasilitasi keterlibatan UMKM ataupun petani lokal dalam pengelolaan dapur MBG ini.
“Pesantren bukan hanya mencetak ulama dan pemimpin umat, tapi juga agen transformasi sosial dan ekonomi,” sambungnya.
Baca Juga: Program MBG Terhenti di Wonocolo, Siswa Sekolah Kembali Cari Makan Siang di Kantin
Dalam kesempatan itu, Ketua Umum PKB tersebut juga menekankan seluruh Dapur MBG di Pesantren telah sesuai dengan standar Badan Gizi Nasional (BGN), baik dari sisi kualitas bangunan maupun kualitas makanan.
Sehingga dipastikan seluruh santri mendapatkan makanan yang benar-benar bergizi.
Baca Juga: Viral Aktif Bersihkan Masjid, Cecep Abdullah Dapat Undangan Haji dari Kerajaan Arab
Peluncuran program ini dihadiri oleh lebih dari 2.500 peserta yang terdiri dari santri, pimpinan pondok pesantren, pemerintah daerah, dan perwakilan kementerian/lembaga.
Jawa Timur dipilih sebagai lokasi pertama mengingat posisinya sebagai provinsi dengan basis pesantren terbesar di Indonesia. ***