KLIKREAD.COM, China - Pemerintah China geram atas pernyataan Presiden Taiwan, Lai Ching-te dan menyebutnya sebagai "penghasut perang".
Hal Ini disampaikan pada hari Kamis 12 Februari 2026 setelah pemimpin Taiwan tersebut mengingatkan bahwa Beijing akan menargetkan negara-negara di kawasan Indo-Pasifik, jika berhasil menguasai Taiwan.
Lai mengatakan kepada AFP dalam wawancara pertamanya dengan kantor berita global sejak menjabat pada Mei 2024, bahwa jika China mengambil alih Taiwan, Beijing akan menjadi "lebih agresif".
Baca Juga: Menteri Negara Singapura Tinjau Warung Nasi Pariaman Setelah Kabar Penutupan
Selanjutnya China akan mengarahkan "ambisi ekspansionisnya" ke Jepang, Filipina, dan negara-negara lain di kawasan Indo-Pasifik.
Kementerian Luar Negeri China menuduh Lai memprovokasi agresi, dan menyebutnya sebagai "penghasut perang."
"Pernyataan Lai Ching-te sekali lagi mengungkap sifat pro-kemerdekaannya yang keras kepala, sepenuhnya membuktikan bahwa ia adalah perusak perdamaian, pencipta krisis, dan penghasut perang," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian dalam konferensi pers, dilansir kantor berita AFP, Kamis 12 Februari 2026.
Baca Juga: Presiden Prabowo Kunjungi Paviliun Indonesia di WEF 2026, Perkuat Diplomasi Investasi
"Apa pun yang dikatakan atau dilakukan Lai Ching-te, hal itu tidak dapat mengubah fakta sejarah dan hukum bahwa Taiwan adalah bagian dari wilayah China," cetusnya.
Diketahui bahwa China mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, dan telah mengancam akan menggunakan kekuatan untuk membawa pulau yang berpemerintahan sendiri itu di bawah kendalinya.
Dalam wawancara dengan AFP, Lai mengatakan jika China merebut Taiwan, Beijing akan menjadi "lebih agresif, merusak perdamaian dan stabilitas di Indo-Pasifik dan tatanan internasional berbasis aturan."
"Jika Taiwan dianeksasi oleh China, ambisi ekspansionis China tidak akan berhenti di situ," kata Lai.
Baca Juga: Penantian Panjang WNI di Swiss Sambut Kedatangan Prabowo Berakhir Bahagia
"Negara-negara berikutnya yang terancam adalah Jepang, Filipina, dan negara-negara lain di kawasan Indo-Pasifik, dengan dampak yang pada akhirnya akan mencapai Amerika dan Eropa," ujarnya.
Artikel Terkait
Lewat Aplikasi Ruang GTK, Kemendikdasmen Masuk Top 10 Global EdTech Prize di World Schools Summit 2025 di Dubai
Pakistan-Indonesia Sepakati Langkah Kerja Sama, Fokus Agrikultur dan IT
Perkuat Kerja Sama di Bidang Kesehatan, Prabowo Sebut Pakistan Akan Kirim Dokter ke RI
Prabowo Tegaskan Indonesia-Pakistan Dukung Kemerdekaan Palestina, Serukan Two-State Solution
Hingga November 2025, 41.800 Warga Negara Asing Ditolak Masuk Singapura
Presiden Prabowo Disambut Larry the Cat di Downing Street, Inggris
Penantian Panjang WNI di Swiss Sambut Kedatangan Prabowo Berakhir Bahagia
Prabowo Bertemu Raja Charles di Inggris, Perkuat Diplomasi Lingkungan Melalui Konservasi Gajah
Presiden Prabowo Kunjungi Paviliun Indonesia di WEF 2026, Perkuat Diplomasi Investasi
Menteri Negara Singapura Tinjau Warung Nasi Pariaman Setelah Kabar Penutupan