KLIKREAD.COM, Eropa - Parlemen Eropa menyoroti konsekuensi serius dan luas bagi hak asasi manusia serta lingkungan, terkait pembangunan bendungan pembangkit listrik tenaga air oleh China di Dataran Tinggi Tibet.
Isu ini diangkat pada konferensi Parlemen Eropa bersama Federasi Internasional untuk Hak Asasi Manusia (FIDH) dan organisasi anggotanya, Kampanye Internasional untuk Tibet (ICT) pada 14 Mei lalu.
Konferensi ini juga dihadiri sejumlah anggota masyarakat sipil, termasuk perwakilan masyarakat Uyghur, yang telah menghadapi kebijakan ekstraksi sumber daya kolonialis yang serupa.
Baca Juga: Anwar Ibrahim Bantah Dituding Nepotisme Angkat Putrinya Jadi Wakil Presiden Partai PKR
"Apa yang terjadi di atap dunia berdampak pada kita semua secara global, dan Uni Eropa tidak dapat tinggal diam tentang bendungan Tiongkok di Tibet," kata Heide, mengutip dari situs FIDH, Selasa 20 Mei 2025.
"Ekstraksi sumber daya di wilayah yang diduduki, yang mengakibatkan pelanggaran hak asasi manusia serta kerusakan lingkungan, tidak dapat diterima," sambungnya,
"Keberlanjutan sesungguhnya adalah ketika proyek-proyek yang berjalan menghormati planet kita dan orang-orang yang tinggal di dalamnya," ungkap Heide.
Baca Juga: Presiden Donald Trump Larang Universitas Harvard Terima Mahasiswa Internasional
Sementara Palmo Tenzin, Peneliti Senior di ICT, membuka panel tersebut dengan ikhtisar temuan dari laporan terbaru ICT tentang proyek bendungan tenaga air China di Tibet.
Ia menjelaskan mengapa proyek semacam itu tidak berkelanjutan seperti yang diklaim oleh pemerintah China, dan menguraikan serangkaian rekomendasi untuk badan internasional dan pemerintah asing.
Termasuk perlunya UE untuk memastikan bahwa perusahaan Eropa tidak terlibat dalam rantai pasokan industri konstruksi tenaga air di Tibet.
Tenzin Choekyi, Peneliti Senior di Tibet Watch, memberikan wawasan tentang biaya manusia, budaya, dan peradaban dari perluasan pembangkit listrik tenaga air yang tidak diatur di China.
Ia juga membagikan rekaman video dari protes terhadap bendungan Kamtok (Gangtuo) pada Februari 2024, yang ditanggapi dengan tindakan keras oleh otoritas China.
Artikel Terkait
Jokowi Berdoa Dihadapan Peti Jenazah Paus Fransiskus, Saat Melayat ke Vatikan
Otoritas Arab Suadi Sita Koper CJH Indonesia, Kedapatan Bawa Rokok dengan Jumlah Banyak
PPIH Imbau Jemaah Haji RI Pakai Payung Saat di Luar Suhu Makkah Capai 42 Derajat Celcius
Putra Mahkota Brunei Jemput Langsung Presiden Prabowo Menuju Istana Nurul Iman
Inilah Nama Akun Instagram dan X Resmi Paus Leo XIV
Arab Saudi Tolak 117 WNI Diduga Kuat akan Haji Ilegal Gunakan Visa Kerja
Presiden RI Prabowo Subianto Disambut Meriah Pejabat Tinggi dan Diaspora Indonesia Saat Tiba di Thailand
Budi Arie Diutus Prabowo untuk Hadir di Pelantikan Paus Leo XIV di Vatikan
Presiden Donald Trump Larang Universitas Harvard Terima Mahasiswa Internasional
Anwar Ibrahim Bantah Dituding Nepotisme Angkat Putrinya Jadi Wakil Presiden Partai PKR