REFLEKSI BULAN PANCASILA: ETIKA DALAM BISNIS PARIWISATA (Bagian 2 - Kritik, Refleksi, dan Potensi Solusi)

photo author
Tim Klik Read 01, Klik Read
- Kamis, 8 Juni 2023 | 17:14 WIB
Ilustrasi: Pariwisata di Bali (Biro Komunikasi Publik Kemenparekraf)
Ilustrasi: Pariwisata di Bali (Biro Komunikasi Publik Kemenparekraf)

Orang berwisata ke tempat kita karena kekaguman akan marwah dan karakternya. Bukan karena kemampuan kita mengimitasi kosmopolitan New York, Paris atau London untuk negeri kita.

Bicara tentang Bali misalnya, karakter budaya Bali bukan karakter mundane. Karakter budaya Bali adalah kristalisasi nilai-nilai dan kearifan leluhur nusantara yang diwariskan secara turun temurun dan tercermin dalam sikap dan keseharian warganya.

Oleh karenanya, kembalilah ke jati diri. Kembalikan marwahnya. Pembangunan pariwisata Indonesia, termasuk Bali tidak perlu meniru destinasi wisata manapun. Karena dengan menjadi diri sendiri, orang akan menghargai. Dengan bangga terhadap identitas sendiri maka orang akan mencari.

Baca Juga: Lulusan SMK Pantau Nih, PT Green Planet Indonesia Jakarta Barat Butuh Tenaga Administrasi, Cek Loker Terbaru!

Ciptakan peraturan pariwisata yang bervisi melestarikan budaya bangsa, Lakukan pembangunan yang selaras dengan nilai-nilai adiluhung nusantara, pastikan pembangunan pariwisata yang diabdikan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Secara khusus, bisnis pariwisata mesti mengutamakan kesejahteraan masyarakat setempat (lokal).

Karya seni dan budaya sepatutnya mendapat penghargaan tinggi. Partisipasi warga lokal dalam pembangunan pariwisata harus dijamin. Kesempatan berusaha dan pemberdayaan masyarakat mesti dilakukan. Coba refleksikan sebagai contoh, perhelatan kelas dunia yang biasa diadakan di Bali, seperti KTT G-20 yang baru lewat misalnya.

Apa yang didapat masyarakat bali? Contoh yang sangat praktikal. Pengusaha transport lokal sulit berpartisipasi karena syarat mobil yang bisa dipakai adalah mobil tahun 2020 ke atas. Berapa banyak pengusaha yang bisa memenuhi syarat tersebut?Pengusaha makanan lokal/catering sulit masuk. Begitupun penginapan-penginapan lokal,kurang terpromosikan.

Baca Juga: Loker Terbaru Serang Cilegon di PT Waagner Biro Indonesia, Link Daftarnya Ada di Sini!

Paling yang biasanya ditawarkan kepada pengusaha lokal dalam event-event prestisius dunia yang diadakan di daerah mereka adalah mengisi stand pameran atau jualan UMKM. Itu pun persyaratan keikutsertaannya ketat.
Sementara itu dukungan untuk inovasi dan kreativitas berkesenian dan menjaga warisan budaya juga belum maksimal. Semoga hal-hal yang disampaikan dalam rangkaian tulisan ini dapat memperoleh perhatian semestinya.

Sebagaimana konsep Tri Sakti yang disampaikan oleh Proklamator RI, Bung Karno, satu komponen pentingnya adalah berkepribadian dalam kebudayaan. Selain berdikari dalam ekonomi dan berdaulat dalam politik.

Pertanyaan yang mesti terus kita tanamkan dalam kesadaran adalah, sudahkah bisnis pariwisata Indonesia berkepribadian dalam kebudayaan seperti yang diamanatkan oleh Tri Sakti?

Pande K Trimayuni ([email protected])***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Agus Jimmy

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X