Sejarah Jalan Pantura Dibangun Hindia Belanda Mengorbankan Nyawa para Pekerja Pribumi Jadi Buruh Kerja Paksa

photo author
Harment Aditya, Klik Read
- Selasa, 21 April 2026 | 16:47 WIB
Kondisi Jalan Pantura saat ini lewat jalur Pantura Lohbener, Indramayu, Jawa Barat./net
Kondisi Jalan Pantura saat ini lewat jalur Pantura Lohbener, Indramayu, Jawa Barat./net

KLIKREAD.COM - Jalur Pantura (Pantai Utara) Jawa, dengan panjang sekitar 1.341 km saat ini, berakar dari proyek De Grote Postweg (Jalan Raya Pos) yang dibangun oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Herman Willem Daendels, antara tahun 1808-1811.

Jalan ini membentang dari Anyer (Banten) hingga Panarukan (Jawa Timur) awalnnya dibangun untuk kebutuhan militer dan pos surat.

Dan dibangun dengan keringat, darah, dan nyawa para pekerja, terutama kaum pribumi yang menjadi buruh kerja paksa.

Baca Juga: Mengenal Munggahan, Tradisi Menyambut Bulan Suci Ramadan

Pada masa Mataram, cikal bakal Jalan Pantura ini berfungsi untuk kepentingan konsolidasi kekuasaan antara wilayah pedalaman dan pesisir.

Jalan Raya Pantura ini juga sebagai media penghubung untuk diplomasi antara Mataram dengan para utusan, baik dalam maupun luar negeri, seperti utusan kongsi dagang Hindia Timur atau VOC.

Mataram juga berusaha mengontrol wilayah pesisir dengan menempatkan orang yang dipercayainya.

Baca Juga: Gedung Perundingan Linggarjati Saksi Penting Sejarah Terbentuknya RIS

Kunjungan wajib pada hari-hari pisowanan merupakan cara Mataram untuk mengontrol kesetiaan wilayah Pesisir tersebut.

Dalam proses pengawasan ini, sarana transportasi darat berupa jalan raya yang menghubungkan Mataram dengan pesisir diperlukan.

Jalan Raya Pantura juga menjadi sarana diplomasi antara orang Belanda dan Mataram.

Hal ini terlihat dari cerita perjalanan Hendrick de Haen yang ditunjuk menjadi duta VOC untuk Mataram pada 1621.

Baca Juga: Wisata Sejarah Situs Purbakala di Museum Taman Purbakala Cipari Kuningan Jawa Barat

Diceritakan bahwa ia berangkat dari Batavia menuju Tegal menggunakan jalur laut, sementara itu perjalanan dari Tegal menggunakan jalur darat.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Harment Aditya

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Mengenal Munggahan, Tradisi Menyambut Bulan Suci Ramadan

Selasa, 17 Februari 2026 | 13:10 WIB
X