KLIKREAD - Gerakan 30 September 1965 adalah istilah yang merujuk pada tindakan atau operasi yang dilakukan oleh Letkol Untung, Komandan Batalyon Tjakrabirawa, untuk menyingkirkan Dewan Jenderal yang diduga akan melakukan kudeta terhadap Presiden Soekarno pada tanggal 5 Oktober 1965.
Apa yang dilakukan oleh Letkol Untung adalah tindakan yang didasari adanya 'pembenaran' terhadap Dokumen Gilchrist yang kebenarannya masih simpang siur.
Dalam dokumen intelejen tersebut, disebutkan ada sekelompok Jenderal AD yang berupaya membantu intervensi Amerika dan Inggris di Indonesia. Salah satu target utama dari operasi intelejen bersama Amerika dan Inggris di Indonesia adalah menggulingkan pemerintahan yang sah.
Letkol Untung sejatinya adalah seorang perwira menengah yang masih jauh dengan pangkat Jenderal atau posisi strategis lainnya.
Namun dalam penggambaran film Pengkhianatan G30S PKI arahan Arifin C. Noer, Letkol Untung kerap kali ikut terlibat secara intens dengan rapat Biro Khusus CC PKI yang dipimpin oleh Syam Kamaruzaman.
Melihat kedekatan Letkol Untung dengan PKI bisa dibilang bahwa ada infiltrasi yang berhasil dilakukan oleh PKI ke dalam tubuh AD.
Baca Juga: Syam Kamruzaman, Sosok Misterius Yang Berada di Balik Peristiwa G30S PKI, Intel Militer Atau Bukan?
Kemudian pada malam 30 September 1965, Letkol Untung bersama beberapa anggota Tjakrabirawa, simpatisan PKI, dan beberapa anggota militer lainnya dari kesatuan AL, AD, dan Polisi, melakukan Gerakan 30 September 1965.
Gerakan 30 September 1965 menurut Letkol Untung adalah upaya penyelamatan pemerintahan Presiden Soekarno dari operasi CIA yang menggunakan tangan pucuk pimpinan AD.
Baca Juga: Beberapa Adegan dalam Film G30S PKI yang Disebut-sebut Tidak Sesuai Fakta
Untuk itu Letkol Untung menuding bahwa para pimpinan AD yang diculik dan dibunuh adalah kelompok yang suka menghamburkan uang dan hidup layaknya kalangan elit ekonomi.
Atas dasar itulah Letkol Untung bersama gerombolan G30S melakukan operasi penculikan dan pembunuhan pada dini hari 1 Oktober 1965. Seperti kita ketahui bahwa gerakan tersebut berhasil menculik dan membunuh enam Jenderal AD (A. Yani, MT Haryono, R Soeprapto, S. Parman, S. Siswomihardjo, dan DI Panjaitan) dan satu perwira menengah AD yakni Lettu Piere Tendean.