Dalam proses pemerintahannya, ia terkenal cukup otoriter dan sering sekali membatasi adanya kebebasan pers dan Hak Asasi Manusia.
Kemenangannya yang selalu didapatkan dengan persentasi suara rata-rata diatas 90% mengindikasikan adanya kecurangan dalam proses pemilu yang diikutinya menurut para kritikus.
Selain itu, kemenangan 'rutin' itu selalu tidak dibarengi adanya penurunan tingkat kemiskinan di negara yang dikenal kaya akan minyak tersebut.
Padahal ia sendiri dikenal memiliki kekayaan pribadi yang cukup besar.
Hal ini tentunya semakin memperkuat adanya indikasi pelanggaran HAM yang dilakukan oleh Nguema selama menjabat sebagai presiden.
Perlu diketahui, puteranya yang sempat digadang-gadang sebagai calon penerus kekuasaannya justru dihukum oleh Pengadilan Perancis pada tahun 2020 setelah dituduh melakukan penggelapan.***
Artikel Terkait
Presiden Jokowi Targetkan Indonesia Mandiri Gula, Impor Gula Tembus 4 Juta Ton Per Tahun
Presiden Jokowi Yakinkan Juni 2023 Kereta Cepat Jakarta Bandung Beroperasi, Tiket Rp125 Ribu hingga Rp250 Ribu