Oleh Yeni Widyastuti, M.Si
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL)
KKM Untirta Kelompok 12 Desa Kamasan Kec.Cinangka Kab.Serang
Pendahuluan
Tanggal 25 Januari diperingati sebagai Hari Gizi Nasional yang tahun 2024 ini merupakan peringatan yang ke-64. Melansir dari detik.com peringatan Hari Gizi pertama kali diperingati oleh Lembaga Makanan Rakyat (LMR) pada pertengahan tahun 1960-an. Kemudian pada tahun 1970-an peringata tersebut diambil alih Direktorat Gizi Maysrakat sampai dengan saat ini Tujuannya adalah untuk meningkatkan komitmen dari berbagai pihak agar bersama-sama membangun gizi menuju bangsa yang sehat dan berprestasi, melalui gizi yang seimbang dan produksi pangan berkelanjutan.
Tema Hari Gizi Nasional tahun 2024 menurut Kementerian Kesehatan adalah ‘MP-ASI Kaya Protein Hewani Cegah Stunting’ dengan slogan ‘MP-ASI Berkualitas Untuk Generasi Emas”. Hal ini sejalan dengan persoalan stunting yang kasusnya masih cukup banyak di Indonesia Sebagaimana arahan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, yang disampaikan dalam Rapat Kerja Nasional BKKBN hari Rabu, 24 Januari 2024 yang menyatakan bahwa penyelesaian stunting tidak hanya berurusan dengan persoalan tinggi badan namun yang paling berbahaya adalah rendahnya kemampuan anak untuk belajar, keterbelakangan mental dan munculnya penyakit-penyakit kronis. Lebih lanjut, Presiden Joko Widodo meminta semua pihak untuk bersama-sama meningkatkan komitmen dalam rangka mencapai tujuan target prevalensi stunting sebesar 14 persen di tahun 2024 (Sumber: sehatnegeriku.kemkes.go.id).
Dalam acara tersebut Kementerian Kesehatan mengumumkan Hasil Survei Status Gizi Nasional (SSGI) yang mengalami penurunan sebesar 2,8 persen dari tahun 2021 sebesar 24,4 persen menjadi 21,6 persen di tahun 2022. Menteri Kesehatan menyampaikan bahwa survei SSGI sebelumnya dilakukan setiap 3 tahun sekali, namun sejak tahun 2021 survei dilakuan setiap tahun. Pencegahan stunting sesuai Perpres Nomor 72 tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting meliputi 5 pilar yaitu (1) Komitmen; (2) Pencegahan Stunting; (3) Harus Bisa Melakukan Konvergensi; (4) Menyediakan Pangan yang Baik dan (5) Melakukan Inovasi Terobosan dan Data yang Baik.
Sebagai bagian dari tanggung jawab bersama dan perwujudan komitmen dalam pencegahan stunting, maka peran sertadari semua pihak dari berbagai elemen masyarakat sangatlah penting termasuk dari mahasiswa. Mahasiswa sebagai pembawa perubahan (agent of change) dan berada di fase perkembangan remaja dalam transisi menuju dewasa. Tulisan ini bertujuan untuk meningkatkan awareness atau menggugah kesadaran terkait sejauh mana hal-hal yang bisa dilakuan oleh mahasiswa terkait stunting.
Pembahasan: Peran Mahasiswa dalam Pencegahan Stunting
Salah satu bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi adalah dharma ke-3 yaitu pengabdian pada masyarakat. Pengabdian masyarakat adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk membantu masyarakat dalam beberapa aktivitas tanpa mengharapkan imbalan dalam bentuk apapun dan bertujuan untuk memberikan solusi terhadap permasalahan nyata yang terjadi di masyarakat. Salah satu kewajiban mahasiswa dalam menjalankan pendidikannya di perguruan tinggi adalah melaksanakan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) yang dalam hal ini mahasiswa akan Menyusun rencana-rencana, program kerja, menjalin kemitraan, melaksanakan sosialisasi, penyebaran informasi serta bentuk-bentuk kegiatan edukasi yang diterapkan di lingkungan masyarakat di luar lingkungan kampusnya. Ragam agenda program kerja dan kegiatan ini haruslah disusun sedemikian rupa sehingga memiliki dampak nyata bagi masyarakat berupa peningkatan kesadaran, pengetahuan dan praktek baik dalam menyelenggarakan aktivitas kehidupan sehari-hari di masyarakat.
Artikel Terkait
Mahasiswa dan Idealisme Politiknya
Tips Mengelola Keuangan Selama Bulan Ramadhan Supaya Tepat Guna dan Hemat
REFLEKSI BULAN PANCASILA: ETIKA DALAM BISNIS PARIWISATA (Bagian 2 - Kritik, Refleksi, dan Potensi Solusi)