KLIKREAD.COM - Nasib tak mengenakkan menimpa salah satu komentator sepak bola Piala Dunia 2022, menyebut nama Hakan Sukur berakhir pemecatan.
Komentator sepak bola ini bekerja di salah satu stasiun televisi di Turki, menyebut nama Hakan Sukur kala Kanada berhadapan dengan Maroko di fase grup Piala Dunia 2022 Qatar.
Komentator ini bernama Alper Bakircigil dari Turki, dipecat usai menyebutkan nama terlarang (Hakan Sukur) pada pertandingan Kanada vs Maroko.
Hakan Sukur merupakan legenda sepak bola Turki, striker legendaris yang kini terasing dari negaranya.
Alper Bakircigil mengakui dirinya dipecat usai memandu babak pertama pertandingan Kanada vs Maroko di Piala Dunia 2022 pada Kamis (1/12).
Pada pertandingan tersebut Maroko berhasil unggul pada menit keempat lewat gol Hakim Ziyech. Gol cepat itu membuat Alper Bakircigil menyebutkan fakta sejarah Piala Dunia bahwa pencetak gol tercepat di pesta sepak bola empat tahunan masih dipegang eks penyerang timnas Turki, Hakan Sukur.
Namun penyebutan fakta Piala Dunia itu tidak disukai oleh tempatnya bekerja yakni televisi Turki, TRT. Pasalnya, nama Hakan Sukur dianggap sebagai nama terlarang untuk disebut-sebut di Turki.
"Saya dipecat dari TRT, tempat saya bekerja dengan bangga selama bertahun-tahun, setelah acara yang berlangsung hari ini.Perpisahan penuh kasih.Semoga bertemu denganmu lagi. Selamat tinggal," tulis Bakircigil di Twitternya dikutip dari Sportbible.
Meskipun Bakircigil benar karena Sukur mencetak gol tercepat dalam sejarah turnamen, namun penyebutan nama Sukur tampaknya menjadi alasan di balik pemecatannya.
Selama berkarier di dunia si kulit bundar, Hakan Sukur adalah salah satu bintang terbesar di sepak bola Turki dengan mencetak 51 gol dalam 112 penampilan untuk negaranya.
Baca Juga: Meski Menang Atas Ghana, Uruguay Tetap Tersingkir dari Piala Dunia 2022 Qatar
Namun, setelah pensiun, ia terjun ke dunia politik dan kemudian dikaitkan dengan terorisme. Sukur dan keluarganya kemudian melarikan diri ke Amerika Serikat setelah dia dituduh berperan dalam upaya kudeta yang gagal pada 2016.