“Pertumbuhan ekonomi NTT tahun 2025 berada di angka 5,14 persen, sementara pada triwulan I tahun 2026 meningkat menjadi 5,32 persen,” ucapnya.
Menurut Emanuel, Kota Kupang dan Kabupaten Manggarai Barat menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi di NTT.
Namun, ia menilai masih ada banyak daerah lain yang perlu digenjot agar pertumbuhan ekonomi lebih merata.
“Kami ingin banyak pusat pertumbuhan baru tumbuh di setiap kabupaten dan kota sesuai potensi masing-masing daerah.
Tidak perlu semua daerah memiliki sektor yang sama,” ungkapnya.
Emanuel mengatakan bahwa Pemerintah Provinsi NTT akan terus mendorong pengembangan potensi unggulan daerah agar mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat dan berkelanjutan.
Sementara itu, Gubernur Ansar Ahmad saat iu memaparkan berbagai potensi strategis yang dimiliki Provinsi Kepri, mulai dari sektor kelautan dan perikanan, pariwisata, hingga investasi.
Ansar menyebut Kepri memiliki luas wilayah laut mencapai 417 ribu kilometer persegi, bahkan lebih luas dibandingkan wilayah Malaysia.
Selain itu, Kepri juga memiliki kawasan konservasi perikanan budidaya seluas 2,9 juta hektare.
“Potensi hasil tangkapan perikanan Kepri mencapai 1,3 juta ton dengan berbagai komoditas unggulan seperti cumi-cumi, ikan demersal, ikan karang, lobster hingga udang,” kata Ansar.
Di sektor pariwisata, Ansar mengatakan Kepri menjadi salah satu dari tiga pintu masuk wisatawan mancanegara terbesar di Indonesia bersama Bali dan DKI Jakarta.
Kepri juga dikenal sebagai destinasi wisata olahraga internasional dan memiliki kawasan pariwisata unggulan di Lagoi, Kabupaten Bintan.