Minimal ada prioritas untuk penanganan penyakit ini,” ujarnya.
Karena itu, ia berharap keterlibatan perusahaan melalui program tanggung jawab sosial atau CSR dapat membantu keberlanjutan layanan HIV/AIDS.
Meski belum sepenuhnya mencapai target, penanganan HIV/AIDS di Tanjungpinang mulai menunjukkan perkembangan positif.
Baca Juga: Peringatan Hardiknas 2026 di Batam Dimeriahkan 5.120 Pelajar dengan Tari Zapin Massal
“Ini tantangan bagi kita di tengah keterbatasan anggaran.
Tapi kalau dilakukan bersama-sama, persoalan ini bisa kita atasi agar penyakit ini tidak terus berkembang,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Komunitas Peduli AIDS Kepri (Kompak), Harmoni, menjelaskan kegiatan ini digelar untuk mencari solusi keberlanjutan program HIV/AIDS setelah sejumlah pendanaan donor mulai berakhir.
Sejak 2019, program pendampingan ODHIV di Tanjungpinang mendapat dukungan dari lembaga donor internasional.
Namun sebagian bantuan dijadwalkan selesai pada 2026.
Selain memberi dukungan psikososial, komunitas juga membantu memastikan pasien tetap menjalani terapi ARV secara rutin.
“Kami berharap ada dukungan dari pemerintah maupun nonpemerintah agar program pencegahan HIV/AIDS di Tanjungpinang tetap berjalan,” terangnya.
Dalam forum itu turut disampaikan komitmen donor global terhadap pendanaan kesehatan terus menurun.
The Global Fund pada 2025 memangkas pendanaan sebesar 9,26 persen dari skema hibah yang berjalan.