Ia menyuguhkan realita lewat video yang membuat para siswa tertegun.
"Kita sering terjebak dalam scrolling tanpa henti.
Informasi hanya lewat, tidak menetap. Itulah awal mula literasi kita mati," ujar Arment di depan kelas.
Baca Juga: Perempuan Miliki Peran Strategis, Diharapkan Jadi Mitra Pemerintah Dukung Pembangunan Kepri
Suasana yang semula tegang berubah menjadi interaktif ketika diskusi dimulai.
Yuni Aliarti, siswi kelas 8.1 yang sejak SD konsisten menyabet gelar juara kelas, menjadi bintang di sesi itu.
Dengan lantang, ia menjawab tantangan pemateri, menunjukkan bahwa di tengah gempuran konten "sampah" di media sosial, masih ada bibit-bibit unggul yang kritis dan haus akan ilmu.
Baca Juga: Amsakar Tegaskan Keberagaman Perlu Rawat dengan Baik Dijadikan Kekuatan Pembangunan Batam
Lahirkan Literat dan Para Penjaga Kebenaran
Pelatihan ke-16 yang diinisiasi Tim Bidang Pendidikan PWI Batam ini kepada siswa-siswi tingkat SMP di Batam tidak hanya workshop literasi dan melatih menulis berita.
Lebih jauh, mereka sedang ditempa menjadi 'Wartawan Cilik'.
Mereka adalah calon-calon Duta Literasi yang nantinya akan menjadi "benteng" bagi sekolah mereka sendiri dari serangan hoaks dan perundungan siber (cyber bullying).
Para siswa ini diajarkan untuk menjadi subjek, bukan sekadar objek dari teknologi.
Mereka disiapkan untuk menjadi corong informasi yang menyebarkan prestasi sekolah, memastikan bahwa nama SMPN 36 Batam tetap harum di jagat maya melalui konten-konten positif.