Beragam tips praktis dibagikan, mulai pembiasaan membaca oleh guru, sudut baca, pohon literasi, mading aktif, resume kegiatan, lomba literasi, hingga penerbitan majalah sekolah.
Semua itu bukan sekadar program, melainkan cara membangun budaya.
Pada sesi kedua, suasana kelas semakin hidup.
Siswa diajak menyelami dunia jurnalistik sekolah: mengenal profesi jurnalis, menyusun berita, teknik wawancara, hingga latihan menulis.
Kata demi kata dirangkai, pikiran mulai berani berbicara.
“Pelatihan jurnalis idealnya berjalan dua tahun. Namun semoga pertemuan singkat ini bisa menjadi awal," ujar Arment menutup sesi.
Dan pagi itu, di SMPN 52 Batam, api kecil bernama literasi mulai menyala.
Ia mungkin belum besar, namun cukup terang untuk menuntun langkah, dari ruang kelas, menuju masa depan terwujudnya 'Generasi Indonesia Emas 2045'.***