Literasi adalah urusan kita semua,” katanya.
Baca Juga: Sidokkes Polresta Barelang Gelar Pojok Yankes untuk Tingkatkan Kesehatan Personel
Di tengah derasnya arus informasi digital, ia mengingatkan pentingnya kemampuan membaca secara kritis agar pelajar tak mudah terseret hoaks dan kabar tak terverifikasi.
“Literasi adalah tameng,” tegasnya.
“Ia melindungi kita dari kebisingan informasi yang menyesatkan.”
Workshop kemudian berlanjut dalam sesi kedua .
Pada sesi pertama, Harment mengupas Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sebagai fondasi kecerdasan.
Membaca, katanya, adalah jendela dunia.
Buku adalah sahabat yang sering ditinggalkan karena gawai.
“Jangan biarkan buku menangis di perpustakaan,” ucapnya, disambut senyum dan anggukan para siswa.
Ia menyoroti ironi zaman, infrastruktur bacaan di Indonesia tergolong baik, perpustakaan tersedia, namun minat membaca masih tertinggal jauh.
Baca Juga: BP Batam Terus Mengembangkan Pariwisata Batam Sebagai Motor Penggerak Perekonomian
Dunia digital yang serba cepat kerap membuat daya pikir anak melemah, karena minimnya kompetisi akademik dan pembiasaan membaca mendalam.
Karena itu, literasi harus terus digerakkan, tanpa lelah.