Ia menambahkan bahwa penanaman 3.000 bibit lamun tersebut memiliki makna mendalam bagi keberlanjutan ekosistem laut.
“Kegiatan ini bukan sekadar seremoni menanam anakan lamun.
Lebih dari itu, ini adalah aksi nyata kita semua dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup, khususnya ekosistem pesisir dan laut di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau.
Lamun adalah aset ekologis yang harus kita jaga bersama,” jelasnya.
Baca Juga: BP Batam Dorong Efisiensi Pengawasan Lewat Dashboard Pengendalian
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT. PELNI, Anik Hidayati, memberikan penjelasan.
Alasan PT PELNI memilih ekosistem lamun sebagai fokus program keberlanjutan lingkungan di wilayah pesisir Indonesia.
Anik menerangkan, bahwa lamun merupakan salah satu tumbuhan laut yang paling efektif dalam meningkatkan kualitas ekosistem pesisir.
“Lamun memiliki pertumbuhan yang relatif cepat dan dapat mencapai tahap dewasa hanya dalam hitungan bulan.
Hal ini menjadikan lamun pilihan yang sangat efektif untuk pemulihan ekosistem pesisir,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa lamun memiliki peran besar dalam pengurangan karbon.
“Selain sebagai habitat biota laut, lamun mampu menyerap dan menyimpan karbon dalam jumlah besar.
Lamun berperan mengurangi emisi karbon di perairan dan membantu menjaga keseimbangan ekosistem laut,” tambah Anik.
Di akhir acara, Anik menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Tanjungpinang atas dukungan yang telah diberikan.