Maka dari itu Wamen Fajar menekankan, dengan relevansi penerapan pembelajaran mendalam (deep learning) sebagai pendekatan pembelajaran di sekolah.
Pembelajaran deep learning itu dinilai membuat siswa untuk lebih berorientasi kepada kualitas pemahaman dibandingkan kuantitas materi yang diajarkan membuat critical thinking siswa akan terasah.
"Deep learning ini sebagai bagian dari upaya Kemendikdasmen untuk menumbuhkan budaya berpikir kritis.
Dan juga kita mendorong pembelajaran coding dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) di sekolah sebagai mata pelajaran pilihan.
Hal ini mengajari anak-anak kita dengan computational thinking yaitu berpikir menggunakan data, agar siswa dilatih untuk punya etika dan bertanggung jawab ketika menggunakan kecerdasan buatan tersebut”, jelasnya.
Baca Juga: Kembangkan Investasi, BP Batam Teken Nota Kesepahaman Bersama Kemerinves
Maka dari itu, Fajar menilai, dalam pembelajaran tidak hanya berorentasi pada materi semata, melainkan menunculkan imajinatif anak.
"Ruang imajinatif anak itu harus diwadahi, rasa penasaran anak jangan dikungkung tapi harus dijawab, agar anak bisa berpikiran kritis.
Disinilah diperlukan melatih proses kesabaran guru," jelasnya.
Fajar juga menyoroti terkait persoalan stunting yang dikaitkan dengan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dapat meningkatkan daya konsentrasi anak saat belajar.
"Ya kalau anak belajar dengan perut kosong bagaimana anak bisa berkontrasi belajar.
Karena saya lihat hampir 2/3 anak pergi kesekolah itu dalam keadaan perut kosong, sehingga sulit konsentrasi belajar," ucapnya.
Baca Juga: Pemko Batam Gelar Rakor Persiapan Ajakan Kampanye Antikorupsi Serentak Tahun 2025
Selain itu kata dia, masalah anak ini dihadapkan pada persoalan mental kesehatan yang mengancam sejak usia dini dan remaja yang ketergantungan pada gadget.