Walikota sendiri menyatakan tidak pernah diwawancara oleh media tersebut.
Teguh menilai isi beritanya justru memaparkan sebagian rencana kerja walikota, namun judul beritanya bernada hujatan.
Baca Juga: Asmara Terlarang, Berawal dari MiChat dan Berakhir di Jeruji Besi
Dalam artikel di media yang sama, Teguh juga membaca judul berita lain yang menyatakan sejak dipimpin Lis Darmansyah pertumbuhan ekonomi Tanjungpinang terjun bebas pada diangka 3,7 persen.
Menariknya, isi berita justru mengambil kutipan dari media lain yang mendeskripsikan langkah strategis peningkatan ekonomi yang dilaksanakan Pemerintah Kota Tanjungpinang.
“Judul berita dengan tulisan lebih besar, saya nilai sebagai ejekan bukan kritik.
Pasangan Lis – Raja baru dilantik pada tanggal 20 Februari lalu.
Jika dihitung hari kerja, Senin 2 Juni 2025 baru masuk 53 hari kerja.
Tentu tidak fair menyatakan pasangan kepala daerah yang baru 53 hari kerja memimpin, membuat pertumbuhan ekonomi Tanjungpinang jadi hancur lebur.
Baru 53 hari kerja, atau anggaplah sudah 100 hari sekalipun, tentu komponen yang tidak tepat dijadikan indikator penyebab turunnya pertumbuhan ekonomi ,” jelas Teguh.
Teguh mengajak rekan pers selaku pilar keempat demokrasi untuk bersama-sama membangun daerah dengan membangun opini positif masyarakat.
Lebih jauh Teguh mengatakan tidak mudah menjadi kepala daerah dalam kondisi defisit anggaran saat ini.
Program dan rencana kerja wali kota dan wakil wali kota terpilih, ucapnya, tentu harus disesuaikan dengan ketersediaan pembiayaan.
“Tidak ingin cengeng, walikota dan wakil walikota tidak ingin membeberkan apa yang menyebabkan defisit anggaran terjadi.