Kondisi tersebut membuat intervensi pemerintah belum sepenuhnya tepat sasaran, terutama dalam penguatan kapasitas usaha, akses permodalan, dan perluasan pasar.
“Yang perlu dipastikan bukan hanya jumlah UMKM, tetapi mana yang sudah punya produk unggulan, mana yang siap naik kelas, dan mana yang masih membutuhkan penguatan modal,” ujar Lis.
Penguatan UMKM, kata Lis, tidak cukup berhenti pada pelatihan, tetapi perlu disertai akses pembiayaan, pendampingan usaha.
Serta juga strategi pemasaran yang terhubung ke pasar nasional.
Potensi lokal juga menjadi fokus pengembangan, terutama sektor kelautan.
Komoditas seperti ikan pari dan gonggong dinilai memiliki peluang untuk diolah menjadi produk bernilai tambah, mulai dari makanan olahan, produk turunan, hingga cenderamata khas daerah.
“Jika prospeknya baik, pengembangan dapat dilakukan melalui kerja sama produksi bersama BUMN, perbankan, serta kolaborasi dengan UMKM di luar daerah,” sebut Lis.***
Artikel Terkait
Angka Kemiskinan Ekstrem Nol, Pemko Tanjungpinang Salurkan Bansos Jangkau PHK 6.203 Keluarga Penerima Manfaat
Bangga Lihat Antusiasme Masyarakat Naik Haji, Gubernur Kepri Lepas 361 CJH Kloter Pertama Embarkasi Batam Berangkat ke Tanah Suci
Gubernur Tekankan Pentingnya Libatkan Generasi Muda Kaderisasi Keberlanjutan Partai
Sambut HBP ke 62, Pegawai Lapas Kelas IIA Batam Melakukan Aksi Donar Darah
BIA 2026 Dijadikan Ajang Kompetisi dan Juga Wadah Strategis Lahirkan Kreatifitas Tingkatkan Kualitas Pelayanan Publik
Sadarkan Keselamatan Berlalu Laintas, Li Claudia Edukasi Siswa Praktikan Cara Nyebrang ZoSS di SDN 001 Batam Kota
Terima Kunjungan Supervisi Baharkam Polri, Kapolda Kepri Tekankan Keberadaan Baharkam Kepri Merupakan Tulang Punggung Kepolisian
Perkuat Keamanan Laut Nasional, Tiga Mako Zona Bakamla Diresmikan Serentak Dilangsungkan di Batam
Kepala BP Batam Tegaskan Program Gema Batam ASRI Wajib Berkelanjutan Bersamaan Gerakan Berbasis Aksi Goro
Pelaku UMKM Tanjungpinang Berharap Dukungan Pemda Penyediaan Mesin Sterilisasi Produk Sambal