Di ruangan inilah Pelatihan Literasi dan Jurnalistik PWI Batam berlangsung.
Baca Juga: Bhabinkamtibmas Polsek Bulang Dukung MTQH Tingkat Kelurahan Bulang Lintang
Tiga puluh enam siswa kelas tujuh dan delapan duduk dengan mata yang enggan berpaling.
Tak satu kata pun ingin mereka lewatkan, seolah pagi itu bukan sekadar pelatihan, melainkan perjumpaan pertama dengan kemungkinan masa depan yang lebih terang.
Wajah-wajah polos dengan rasa ingin tahu sebesar gunung, dan pengetahuan yang tumbuh seiring usia, menjadi penawar atas getirnya pantulan literasi remaja negeri ini di cermin dunia.
Mereka adalah para pelajar yang literat. Cahya, siswi kelas delapan, dengan keyakinan yang tenang menyatakan dirinya bagian dari dunia baca.
Baca Juga: Polresta Barelang Gelar Upacara Serah Terima Jabatan dan Pelantikan Pejabat Utama
Bacaan terakhirnya adalah Bumi karya Tere Liye, novel fantasi tentang tiga sahabat yang dapat menghilang dari pandangan.
Marsya menyebut judul dan penulis buku yang baru ia rampungkan, sementara Chico Jericho memilih menimba kekuatan dari buku-buku motivasi.
Mereka adalah literat yang kelak menularkan api.
Api yang akan membuat pantulan literasi anak Indonesia di cermin dunia perlahan bergerak naik, meninggalkan barisan paling belakang.
Mereka adalah wajah para penjaga nalar dan budi, lahir dari sekolah di wilayah hinterland yang kerap dianggap selangkah tertinggal dari gemerlap sekolah mainland.
Mereka, para siswa dan siswi literat itu, adalah sebaris madah tentang lembutnya hati, tebalnya sabar, dan manisnya tutur para penuntun langkah.
Para guru berpenampilan sederhana yang sepatutnya menerima sekalung budi dan jutaan kata terima kasih.