peristiwa

Pemandu Wisata yang Viral usai Bagikan Momen Erupsi Dukono Ngaku Janggal saat Lihat Gunung Sempat Tak Keluarkan Asap

Minggu, 10 Mei 2026 | 18:36 WIB
Menyoroti peristiwa erupsi Gunung Dukono di Maluku Utara berdasarkan penuturan pemandu wisata saat insiden terjadi. (Facebook.com / Lexi Djangu Trekker - X.com/@infogempadunia)

KLIKREAD.COM - Linimasa media sosial tengah ramai menyoroti beredarnya video amatir yang diduga dibagikan seorang pemandu wisata, Lexi Djangu saat erupsi Gunung Dukono di Halmahera Utara, Maluku Utara (Malut), pada Jumat, 8 Mei 2026 pagi.

Hingga saat ini, dilaporkan 3 orang meninggal dunia dan memicu operasi penyelamatan untuk mengevakuasi para pendaki yang sempat terjebak di dekat kawah Gunung Dukono.

Momen genting yang dibagikan oleh pemandu Gunung Dukono tersebut lantas menuai sorotan, terlebih juga memperlihatkan saat kepulan asap tebal meluncur dari arah puncak.

Terlihat dalam video yang dibagikan ulang akun X @infogempadunia, pada Sabtu, 9 Mei 2026, tampak Djangu bersama pendaki asal luar negeri merekam situasi genting saat peristiwa terjadi.

Baca Juga: Korban Tewas dalam Kecelakaan Bus ALS vs Truk Tangki di Muratara: Total 18 Orang, Ada Dugaan Jenazah Balita

"Ini situasi Erupsi Gunung Dukono dari jarak dekat," tulis postingan tersebut.

"Erupsi terbesar dalam sejarah Gunung Dukono terjadi tadi pagi sekitar pukul 07.40 WIT dengan ketinggian Kolom Abu mencapai 10.000 meter," tambahnya.

Setelah viralnya video tersebut, Djangu sebagai pemandu pendakian di lokasi, angkat bicara dan menceritakan kronologi saat ia bersama pendaki yang didampinginya berupaya menyelamatkan diri.

Klarifikasi Ihwal Profesinya

Baca Juga: 3 Pendaki Dilaporkan Hilang usai Insiden Erupsi Gunung Dukono di Malut, Pencarian SAR Terkendala Hujan Abu

Secara terpisah, Djangu tampak membagikan pernyataan melalui akun Facebook pribadinya, Lexi Djangu Trekker, pada Sabtu, 9 Mei 2026, terkait profesinya sebagai pemandu wisata saat berada di Gunung Dukono tersebut.

"Saya bukan content creator, saya pemandu wisata yang bersertifikasi dan tetap melakukan prosedur sebelum pendakian," kata Djangu.

"(Hal tersebut dengan) melakukan observasi digital dan juga visual sebelum mengambil keputusan," tambahnya.

Saat insiden, Djangu menyebut jarak camping saat terjadi erupsi itu sejauh 4 kilometer.

Halaman:

Tags

Terkini