Graniit Xhaka yang juga kapten Arsenal, mengakui bahwa perayaan itu untuk 'rakyatnya', yang ia maksud adalah asal keluarganya yang sejarahnya selalu ditekan oleh Serbia.
Baca Juga: Luka Modric Nyatakan Piala Dunia 2022 di Qatar Adalah Yang Terakhir Baginya
Xhaka menyatakan seperti dilansir dari laman marca.com, "Itu untuk orang-orang saya, yang selalu mendukung saya. Untuk mereka yang tidak mengabaikan saya, di tanah air saya, di mana akar orang tua saya berada. Ini murni emosi."
Sedangkan Xherdan Shaqiri menolak menjelaskan atau menerangkan maksud ia melakukan selebrasi gaya elang Albania.
Baca Juga: Tiga Kegagalan Besar Dalam Sejarah Piala Dunia, Belanda 1974, Brasil 1982, dan Hungaria 1954
Shaqiri mengatakan, "Saya takut, saya tidak bisa membahas gerakan itu. Kami adalah pesepakbola, bukan politisi ... Emosi terkadang mengambil alih pesepakbola dan ada banyak emosi di luar sana."
Ketegangan tetap tinggi dengan Serbia yang hingga saat ini menolak untuk mengakui Kosovo sebagai negara merdeka. Akibat dari itu membuat banyak dari orang-orang Kosovo yang sudah melarikan diri ke Swiss marah.
Baca Juga: Profil Tim Tango Argentina, Mencari Penebusan Kegagalan di 2014 dan 2018
Patut ditunggu perasaan rivalitas, ketegangan, politik dan emosi akan terungkap pada 2 Desember ketika Swiss dan Serbia akan bertemu di Qatar pada pertandingan terakhir Grup D Piala Dunia 2022.***
Artikel Terkait
Siapa Pemain Paling Termuda Yang Pernah Bermain di Piala Dunia? Ada Pele di Posisi Lima
Pemain Yang Dengan Penampilan Terbanyak di Piala Dunia, Ada Maradona dan Paolo Maldini
Gelandang Prancis Paul Pogba Resmi Tidak Akan Ikut Skuad Prancis ke Piala Dunia 2022 Qatar
Pemenang Piala Dunia 2022 Qatar Akan Mendapatkan Hadiah Uang Sebesar 38 Juta Euro Setara 600 Miliar Rupiah
Felix Sanchez Bas, Orang Dibalik Sukses Membangun Sepakbola di Qatar