sejarah

Mengenal Munggahan, Tradisi Menyambut Bulan Suci Ramadan

Selasa, 17 Februari 2026 | 13:10 WIB
Ilustrasi. Tradisi Munggahan makan bersama dalam menyambut bulan bulan suci Ramadan./net

Namun yang paling khusus, itu berupa nasi ketan yang dicampur parutan kelapa, pisang raja, kue apem dan kue pasung.

Baca Juga: Objek Wisata Kolam Cibulan Legenda Prajurit Ditenung Prabu Siliwangi Menjadi Ikan Dewa Penghuni Kolam

Namun ada juga yang lebih simpel, yakni membawa nasi urap campur telur atau gorengan.

Tradisi ini bukan sesuatu yang buruk, tidak bertentangan dengan syariat dan justru menjadi perantara dari dakwah Islam yang humanis di Nusantara.

Meski secara wadah merupakan tradisi baru dalam Islam, akan tetapi secara subtansi semua di dalamnya merupakan nilai-nilai keislaman itu sendiri.

Juga yang paling pentingnya lagi, punggahan merupakan cara umat Islam untuk menyambut bulan suci Ramadhan.

Karena termasuk orang yang beruntung ketika datangnya Ramadhan, ia bergembira untuk menyambutnya.

Baca Juga: Wisata Sejarah Peninggalan Petilasan Raja Pajajaran, Prabu Siliwangin Berupa Situs Tujuh Sumur

Sebuah hadits yang termaktub dalam Durrotun Nasihin dikatakan:

مَنْ فَرِحَ بِدُخُولِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلىَ النِّيْرَانِ

Artinya: Siapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka.

Kata “Punggahan” merupakan berasal dari bahasa Jawa yakni “munggah” yang artinya “naik”.

Yakni dimaksudkan untuk menaikkan bulan suci Ramadhan.

Akan tetapi, dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) kata "munggah" merupakan sebutan untuk hari terakhir di bulan Ruwah, sehari sebelum dimulai berpuasa Ramadhan.

Baca Juga: Melihat Situs Lingga Tempat Beerkumpulnya Raja-raja di Tatar Pasundan Berusia 2.000 Tahun

Halaman:

Tags

Terkini

Mengenal Munggahan, Tradisi Menyambut Bulan Suci Ramadan

Selasa, 17 Februari 2026 | 13:10 WIB