Di tengah latar belakang suku, agama, ras, dan budaya yang berbeda, Pancasila menjadi perekat utama bangsa.
“Melalui nilai-nilai luhur yang terkandung dari sila pertama hingga kelima, masyarakat diajak untuk terus membangun kehidupan berbangsa dengan semangat gotong royong, keadilan sosial, dan penghormatan terhadap martabat manusia,” jelasnya.
Pidato juga menyoroti pentingnya Asta Cita, delapan agenda prioritas pembangunan nasional menuju 2045.
Salah satunya adalah penguatan ideologi Pancasila, demokrasi, dan hak asasi manusia.
Baca Juga: Lakukan Efesiensi Anggaran, Pemko Tanjungpinang Lakukan Perbaikan PJU dan Gunakan Solar Cell
Dalam konteks ini, Pancasila menjadi pedoman moral untuk menghadapi tantangan zaman, seperti ekstremisme, intoleransi, hingga disinformasi di ruang digital.
“Kemajuan ekonomi tanpa fondasi nilai-nilai Pancasila bisa melahirkan ketimpangan.
Teknologi tanpa bimbingan moral bisa menjerumuskan bangsa pada dehumanisasi,” tegasnya.
Dalam dunia pendidikan, birokrasi, ekonomi, hingga digitalisasi, seluruh elemen bangsa didorong untuk menjadikan Pancasila sebagai nilai hidup yang nyata, bukan sekadar slogan.
Baca Juga: Walikota Batam Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Kota Batam Tahun 2025 Kisaran 7,5 Persen
Lebih lanjut, BPIP melalui pidatonya menegaskan komitmennya dalam menghadirkan berbagai program strategis.
Termasuk pembinaan ideologi di sektor pendidikan, pelatihan bagi ASN, penguatan kurikulum, hingga kolaborasi lintas sektor.
“Tugas membumikan Pancasila tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja.
Dari pusat hingga daerah, dari pemimpin hingga rakyat, semua punya tanggung jawab,” kata Nyanyang membacakan pesan Kepala BPIP.
Baca Juga: Asmara Terlarang, Berawal dari MiChat dan Berakhir di Jeruji Besi