Baca Juga: Momentum HBP ke-62, Kepala Rutan Kelas IIA Batam Ajak Wujud Pembinaan Produktif Warga Binaan
"Andai saja si penyebar lebih bijak, tidak langsung menyebarkan seperti ini," tulis salah satu anggota grup.
Pernyataan lain bahkan menyebut bahwa penyebaran informasi telah membuat kasus menjadi tidak terkendali.
"Kalau sudah tersebar seperti ini, jadinya bola liar. Semua pihak bisa kena imbasnya," begitu tertulis dalam pesan lainnya.
Minta Agar Tidak Ada Sanksi DO.
Baca Juga: Bripda AS Jadi Tersangka, Terkait Polisi Tewas di Asrama Polda Kepri
Di sisi lain, hal yang juga menjadi perhatian publik adalah munculnya permintaan agar para mahasiswa yang terlibat tidak dijatuhi sanksi berat, khususnya Drop Out (DO).
Dalam percakapan tersebut, beberapa orang tua berharap agar kampus dapat mempertimbangkan masa depan anaknya yang kini menjadi mahasiswa.
"Mohon kebijaksanaan pihak kampus, jangan sampai anak-anak ini di-DO. Kasihan masa depan mereka," demikian tertulis dalam salah satu pesan.
Terdapat pula yang menilai sanksi berat seperti DO terhadap para terduga pelaku, bukanlah solusi terbaik.
Baca Juga: Bripda Natanael Ditemukan Tewas di Asrama Polda Kepri dengan Kondisi Tidak Wajar
"Kalau bisa jangan sampai DO, cukup pembinaan saja. Mereka masih muda dan bisa diperbaiki," jelas anggota grup lainnya.
"Namanya juga anak muda, kadang khilaf. Jangan langsung dihukum berat,” tulis pesan lainnya.
Hingga berita ini terbit, belum ada klarifikasi resmi dari pihak terkait ihwal beredarnya chat grup orang tua mahasiswa FH UI usai anaknya terjerat skandal pelecehan tersebut.***