Pilu Gadis Kecil di Bali Lepas Kepergian Ayahnya usai Tewas Dimassa, Picu Sorotan Insiden yang Tidak Patut Dicontoh

photo author
Nada Salsabila, Klik Read
- Senin, 27 Juli 2026 | 19:56 WIB
Menyoroti penuturan Ustaz Abdul Somad terkait viralnya tangisan gadis kecil di Bali yang melepas kepergian ayahnya yang tewas diamuk massa. (Instagram.com/@ustadzabdulsomad_official)
Menyoroti penuturan Ustaz Abdul Somad terkait viralnya tangisan gadis kecil di Bali yang melepas kepergian ayahnya yang tewas diamuk massa. (Instagram.com/@ustadzabdulsomad_official)

Baca Juga: Amsakar Instruksikan OPD Percepat 15 Program Prioritas, Manfaat Pembangunan Segera Dirasakan Warga

Penceramah kenamaan itu mengingatkan, korban bukan sekadar sosok yang dituduh mencuri, melainkan seorang ayah yang meninggalkan anak-anaknya.

UAS lantas mempertanyakan kondisi sosial yang membuat sebagian masyarakat masih terpaksa melakukan tindak kriminal karena tekanan ekonomi.

Menurutnya, ironi tersebut terjadi di tengah Indonesia yang dikenal kaya akan sumber daya alam.

"Mengapa saudara kita mencuri? Di tengah negeri gemah ripah loh jinawi. Emas, nikel, minyak dan gas melimpah," ungkap UAS.

Baca Juga: Sudaryono Pecat 261 Pegawai BGN, Langkah Tegas Bersihkan Penyimpangan

Tindakan Sepihak yang Berujung Hilangnya Nyawa

Bagi yang belum tahu, peristiwa bermula ketika IKD diduga mencuri ayam aduan di Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, pada Jumat, 24 Juli 2026 dini hari sekitar pukul 01.30 WITA.

Kala itu, dugaan pencurian tersebut memicu kemarahan warga hingga korban dikeroyok sampai meninggal dunia.

Tidak hanya itu, sepeda motor milik korban juga dibakar massa.

Baca Juga: Apel Senin Pagi, Disdik Kepri Syukuri Kelancaran SPMB dan Tegaskan Pentingnya Disiplin

Kasus ini memicu kecaman dari berbagai pihak. termasuk dari Kementerian Hak Asasi Manusia melalui Koordinator Wilayah Kerja Bali, Anak Agung Gede Ngurah Dalem.

Dalem menegaskan, tindakan main hakim sendiri merupakan pelanggaran terhadap prinsip-prinsip hak asasi manusia.

Dalem menilai keluarga korban, terutama anak-anak yang menyaksikan langsung dampak tragedi tersebut, membutuhkan pendampingan psikologis dan perlindungan dari negara.

"Kami berharap agar anak dan keluarga korban mendapatkan pendampingan dan perlindungan yang layak, baik dari aspek psikologis maupun pemenuhan hak-haknya," kata Dalem dikutip dalam keterangannya, pada Senin, 27 Juli 2026.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Nada Salsabila

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X