Baca Juga: Luka Modric Jadi Tumpuan Timnas Kroasia, Jadwal Pertandingan Piala Dunia 2022 Qatar Fase Grup F
Kedigdayaan Brasil bisa dilihat dari hampir semua pemain gelandang dan penyerang mereka bergantian mencetak gol.
Jogo Bonito yang indah dan menghibur itu akhirnya tak mampu menjebol sistem Cattenacio atau sistem grendel ala Italia 1982 untuk masuk ke semifinal.
Sepanjang pertandingan 90 menit Italia bermain cerdas dengan memasang enam pemain didepan kotak penalti, dan mengandalkan serangan balik dengan mengandalkan kelihaian Paolo Rossi untuk mencari celah di lini belakang Brasil yang selalu naik menyerang.
Baca Juga: Tunisia Terancam Dicoret dari Piala Dunia 2022 Qatar Akibat Ancaman Sanksi dari FIFA
Sistem grendel ciptaan Enzo Berzoat sangat efektif mematikan pergerakan indah Brasil dengan Zico. Brasil frutasi dengan sistem grendel ini, bahkan mereka harus bermain dengan kenyataan bahwa jogo bonito mereka punya antitesis.
Pada akhirnya Rossi mencetak hattrick nya pada pertandingan yang menentukan untuk lolos ke semifinal. Hattrick ini membawa Italia unggul atas Brasil dengan skor 3-2.
Baca Juga: Starting XI Pemain-pemain Tua di Piala Dunia 2022 Qatar, Ada Ronaldo, Suarez, dan Modric
Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Socrates, Zico, dan kawan-kawan. Jogo bonito yang digadang-gadang akan juara dengan mudah ternyata kandas di tangan Italia yang tidak diunggulkan dan opurtunis.
The Mighty Magyars 1954: Masa Keemasan Sepakbola Hungaria
Tim Hungaria tahun 1954 ibarat sebuah dongeng, dimana mereka menjadi raja dalam sepakbola. Tak ada tim yang mampu menandingi 'kebuasan' mereka di lapangan hijau.
Dua orang Hungaria yang menyihir dunia saat itu adalah Ferenc Puskas dan Sandor Kocsis, mereka berdua mendominasi piala dunia selama fase grup. Bahkan saat fase grup mereka mengalahkan Jerman Barat dengan skor 8-2.
Baca Juga: Trofi Piala Dunia Dibuat Seniman Asal Italia Dengan Berat 6 Kilogram Emas
Pada periode 195-1956, The Mighty Magyars dengan Puskas (Real Madrid) dan Kocsis (Barcelona) membuat rekor 42 pertandingan tanpa kekalahan. Dengan pelatih Gustav Sebes, Hungaria menampilkan total football pertama sebelum Belanda membawanya kembali ke lapangan hijau tahun 1970an.
Sebes menerjemahkan filosofi pertandingan dengan konsep siapapun bisa bertahan siapapun bisa menyerang. Dengan cara seperti itu, tidak ada pemain yang berdiam diri, semua bergerak menutup ruang gerak lawan sewaktu mereka mulai membangun serangan di daerahnya sendiri.