Jerman Barat waktu itu dipimpin oleh pemain terbaik dunia 1974, der Kaiser, Franz Beckenbauer, der Bomber, Gerd Muller, dan kiper terbaik mereka, Sepp Maier.
Awalnya Jerman ketinggalan terlebih dahulu oleh gol penalti Johan Neeskens di menit awal pertandingan. Sejak gol tersebut, Belanda seperti bermain-main dengan Jerman, mereka tidak ingin segera menyudahi pertandingan dengan gol-gol berikutnya.
Baca Juga: BCA Research, Messi Mengangkat Trofi dan Ronaldo Menangis Kembali
Walhasil, Jerman membalas di pertengahan babak pertama dari titik putih yang dikonversi menjadi gol oleh Paul Breitner. Kemudian Jerman di awal babak kedua malah menambah keunggulannya lewat der bomber Gerd Muller.
Kekalahan 2-1 di Olympic Stadium Muenchen mematahkan dominasi Total Football yang waktu itu sebenarnya tidak ada antitesanya. Kelihatan kekalahan Belanda ini terjadi karena terlalu jumawa mereka dengan keunggulan teknik dan lupa bahwa pertandingan dilihat dari skor akhir.
Baca Juga: Messi Mencetak Gol dari Jarak 30 Meter Saat PSG Menang Melawan Troyes 4-3
Brasil: Selecao 1982 Kalah Dengan Grendel Italia
Jika ditanya kepada orang Brasil tim piala dunia mana yang paling berkesan dan paling menghibur buat orang Brasil, jawabannya adalah Brasil 1982.
Selecao Brasil tahun 1982 diisi oleh maestro-maestro lapangan hijau yang bermain demi kesenangan dan keindahan, istilahnya mereka mengedepankan jogo bonito.
Baca Juga: Profil Tim Spanyol Piala Dunia 2022, Proses Regenerasi Setelah Masa Keemasan Yang Sudah Memudar
Talenta besar, 'Pele Putih' Zico, Socrates, Eder, Falcao, Leandro, dan Junior, yang dilatih oleh pelatih legendaris Tele Santana, menjelma menjadi tim atraktif yang bisa mencetak lebih dari 2 sampai 3 gol di setiap pertandingan yang mereka lalui di fase grup Piala Dunia 1982 Spanyol.
Zico sebagai gelandang serang menari-nari mengobrak-abrik pertahanan lawan karena di back up oleh gelandang bertahan brilian yang ada di diri Falcao. Socrates sangat jenius di kotak penalti lawan dengan permainan sentuhan-sentuhan mengalir dengan Zico.
Baca Juga: Youngster Debutan di Piala Dunia 2022 Yang Berpotensi Menjadi Pemain Terbaik Turnamen
Socrates, sang kapten, pun memiliki tendangan geledek yang bisa membuat bek lawan berpikir untuk tidak menjaga man to man marking. Korban tendangan keras tersebut adalah gawang Uni Soviet di fase grup.
Brasil dengan skema 4-4-2, memiliki full back yang daya jelajah serangnya tak kenal lelah. Leandro dan Junior menyisir lebar lapangan dan siap menyergap dari second line. Sayap lincah Eder akan memberi tekanan kepada full back lawan sehingga banyak ruang terbuka di tengah.