KLIKREAD - Penyelenggaran Piala Dunia 2022 Qatar tinggal tiga minggu lagi dari sekarang. 20 November 2022 adalah tanggal pembukaan turnamen Piala Dunia yang akan dihelat pertama kali di musim dingin dan di Timur Tengah.
Penyelenggaraan Piala Dunia 2022 di Qatar adalah penyelenggaraan Piala Dunia yang ke-22 dan selalu tim favorit diunggulkan. Namun tak selamanya tim favorit keluar sebagai juara. Melihat sejarah penyelenggaraan Piala Dunia, ada tiga kegagalan besar yang dialami oleh tim yang diunggulkan sebelum turnamen di mulai.
Baca Juga: Profil Tim Tango Argentina, Mencari Penebusan Kegagalan di 2014 dan 2018
Contohnya ada tiga negara yang gagal padahal diunggulkan karena performa mereka menakjubkan selama turnamen. Seperti Belanda tahun 1974, Brasil tahun 1982, dan Hungaria tahun 1954.
Kegagalan mereka membuat para fansnya tidak percaya bahwa timnya dikalahkan padahal mereka menyuguhkan permainan kelas atas selama turnamen.
Mari kita simak yuk, bagaimana mereka gagal di Piala Dunia, dibawah ini:
Baca Juga: Grup C Piala Dunia 2022, Pertemuan Pertama Messi dan Lewandowski di Ajang Piala Dunia
Belanda: Total Football 1974
Piala Dunia yang diselenggarakan FIFA adalah turnamen tertinggi dalam dunia sepakbola. Semua pemain sepakbola dunia bermimpi mengangkatnya sebagai prestasi puncak dalam karir sepakbola mereka dalam membela negaranya masing-masing.
Belanda datang ke Piala Dunia 1974 dengan membawa sistem permainan baru yang memukau imajinasi penonton. Dengan aktor utama Johan Cruyff, dan Rinus Michels sebagai otaknya, Belanda tampil seperti legiun Romawi yang tak kenal lelah menyerang dan mengurung lawan sepanjang 90 menit.
Baca Juga: Video Kompilasi Aksi-aksi Messi Selama Bulan Oktober Viral, Messi Siap Menangkan Piala Dunia 2022
Semua pemain Belanda merotasi diri mereka dilapangan, bek bisa tampil sebagai penyerang, dan begitupun sebaliknya, yang penting bola tidak akan kembali ke wilayah mereka. Johan Cruyff, Ruud Krool, dan Johan Neeskens, bergantian menyerang lawan.
Seperti tsunami, Belanda melahap setiap lawannya lewat permainan dominan diatas lapangan. Sampai akhirnya mereka tiba di partai final melawan tuan rumah Jerman Barat waktu itu.