KLIKREAD.COM - Jalan Trans Papua adalah proyek infrastruktur strategis nasional sepanjang lebih dari 4.300 km yang menghubungkan Sorong (Papua Barat Daya) hingga Merauke (Papua Selatan).
Keberadaan Jalan Trans Papua terbukti menjadi tulang punggung konektivitas di Tanah Papua.
Pembangunan dimulai sejak era 1980-an (Repelita I), diakselerasi secara masif sejak 2014 untuk memangkas biaya logistik, meningkatkan konektivitas antarwilayah, dan membuka isolasi daerah pedalaman.
Dengan panjang lebih dari 1.000 kilometer, ruas ini telah membuka keterisolasian wilayah dan memangkas biaya logistik yang selama ini membebani masyarakat.
Salah satu figur kunci dalam percepatan pembangunan tersebut adalah Ir. Satrio Sugeng Prayitno, M.M., yang menjabat Kepala BPJN XVII Manokwari sejak 16 Februari 2019.
Ia melanjutkan tugas dari Dr. Ir. Yohanis Tulak Todingrara, M.T., yang sebelumnya berhasil menyambungkan seluruh ruas Trans Papua Barat pada akhir 2017.
Di bawah kepemimpinan Satrio Sugeng Prayitno, proyek berfokus pada pengaspalan segmen I (Sorong–Manokwari) sepanjang 48,7 km yang masih berupa perkerasan tanah.
Pengaspalan ini sangat krusial mengingat tantangan geografis dan cuaca ekstrem.
Hingga 2025, progres pembangunan Jalan Trans Papua secara keseluruhan terus berlanjut.
Meski belum 100 persen beraspal di semua segmen, Kementerian PU dan BPJN terus berkomitmen untuk meningkatkan kualitas dan kemantapan jalan, termasuk pembangunan jembatan-jembatan vital, dengan target penyelesaian optimal pada tahun ini
Baca Juga: Mengenal Munggahan, Tradisi Menyambut Bulan Suci Ramadan
Secara umum kehadiran Jalan Trans Papua membuat akses ke layanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan lebih mudah, harga barang pokok menurun, dan potensi pariwisata luar biasa seperti Danau Anggi, Gunung Botak, dan Raja Ampat semakin terbuka.