KLIKREAD.COM, Batam - Di balik dinamika pembangunan Sekolah Terintegrasi Merah Putih di kawasan Rempang, ada komitmen untuk terus melangkah tanpa mengabaikan sisi kemanusiaan.
Pembangunan sarana pendidikan yang berdiri di atas lahan Hak Pengelolaan (HPL) BP Batam seluas 18,5 hektare ini digadang-gadang menjadi tonggak baru dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia bagi anak-anak di kawasan Rempang-Galang.
Namun, mengawal sebuah harapan besar tentu bukan tanpa tantangan. Saat kegiatan pengamanan kawasan berlangsung pada Kamis 13 Agustus 2926.
Situasi di lapangan sempat diwarnai riak emosi dari masyarakat. Dalam momen bertegangan tersebut, nilai-nilai empati dan pengendalian diri justru menjadi benteng utama para petugas.
Baca Juga: Disdik Kepri Gelar Turnamen Futsal Antarbidang dan Kepala Sekolah di Tanjungpinang
Salah satu momen menyentuh terjadi ketika dua peserta aksi berusaha membuka pakaian di tengah pengawasan.
Merespons hal tersebut, personel pengamanan perempuan bergerak cepat secara persuasif bukan untuk membendung aspirasi, melainkan merangkulkan kain jarit guna melindungi privasi, martabat, dan kehormatan sesama perempuan agar tidak terekspos di ruang publik.
Anggota/Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, mengungkapkan bahwa langkah kecil yang sempat dipersepsikan sebagai gesekan tersebut merupakan wujud perlindungan penuh kesantunan.
“Kami memang telah mengantisipasi kemungkinan terjadinya situasi itu dengan menyiapkan kain jarit.
Baca Juga: Lapas Kelas IIA Batam Gelar Ramah Tamah Pelepasan Tugas Andre Silalahi dan Eli Sumiati
Langkah tersebut dilakukan semata-mata sebagai bentuk perlindungan terhadap privasi, martabat, dan kehormatan peserta aksi, serta mencegah kondisi tersebut terdokumentasikan secara visual di ruang publik,” tutur Ariastuty, Selasa (18/8/2026).
Ariastuty menegaskan, kehadiran personel di lapangan murni untuk mengawal dan memastikan aktivitas pembangunan berjalan tertib tanpa gesekan.
Narasi penggusuran yang sempat berembus dibantahnya, sembari menekankan bahwa pendekatan humanis dan persuasif tetap menjadi arahan utama pimpinan.
Di sisi lain, terkait perbedaan pandangan mengenai klaim lahan, BP Batam memilih jalan dialog yang terbuka dan transparan. Dari empat klaim lahan yang ada, dua di antaranya telah ditindaklanjuti.